Rencana Relaksasi Ekspor untuk Nikel dan Bauksit Kandas

0
5
Foto: Smelter atau pabrik pengolahan dan pemurnian mineral PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery, di Air Upas, Ketapang, Kalimantan Barat.(ist)
Foto: Smelter atau pabrik pengolahan dan pemurnian mineral PT Well Harvest Winning (WHW) Alumina Refinery, di Air Upas, Ketapang, Kalimantan Barat.(ist)

JAKARTA – Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, berdasarkan kajian internal Kementerian ESDM pembangunan industri hilir dari dua mineral yakni nikel dan bauksit sudah sangat maju.
Dengan pencapaian tersebut, relaksasi ekspor konsentrat untuk kedua mineral tersebut tidak diperlukan lagi.

“Jadi ini hampir (keputusan) ya. Belum diputuskan. Tetapi hampir pasti, pemerintah tidak akan memberikan relaksasi untuk nikel dan bauksit,” kata Luhut sebagaimana dilansir kompas, Rabu (12/10).

Meski begitu, Luhut masih meminta waktu sepekan ke depan untuk melakukan kajian kembali, sebelum mengambil keputusan.

Luhut mengatakan, saat ini Indonesia dan Filipina mengontrol lebih dari 60 persen perdagangan nikel dunia.

Industri hilir nikel juga sudah berkembang pesat di Indonesia, dengan investasi tercatat hampir Rp 5 miliar.

Bahkan sudah ada produk turunan seperti stainless steel dan produk yang lebih hilir untuk diekspor. “Itu kemajuan yang tadinya tidak saya bayangkan,” ucap Luhut.

China pun mengimpor 40 persen – 60 persen nikel dan produk hilirnya dari Indonesia. China juga membuka industri hilir nikel di Indonesia.

Sementara itu, total smelter nikel di Indonesia saat ini tercatat ada 22 perusahaan. Adapun untuk bauksit, Luhut juga menuturkan, perkembangan hilirisasi untuk bauksit sudah baik. Dengan demikian tidak perlu ada relaksasi ekspor konsentrat.

Tembaga

Berbeda dari nikel dan bauksit, Luhut mengatakan rencana relaksasi untuk tembaga masih terus dikaji. “Karena tembaga ini aneh lagi sifatnya,” ucap Luhut.

Yang jelas, ia berharap, untuk logam tanah jarang tidak akan diekspor lagi. Luhut mengaku meski belum tahu bagaimana hal itu bisa dilakukan, dia ingin agar logam tanah jarang diolah di dalam negeri.

“Kita belum punya teknologinya. Tetapi, itu barang sangat langka, dan Indonesia punya besar sekali,” kata Jenderal TNI (Purn) itu.(binpa/tis)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*