“PON XIX TINGGAL SEMBILAN HARI LAGI, TUAN RUMAH JABAR TERUS BERBENAH”

0
14

Pekan Olahraga Nasional (PON) diadakan setiap empat tahun sekali. Diselenggarakan secara bergilir . Sudah 17 kali PON diadakan. Jakarta terbanyak menjadi tuah rumah sebanyak delapan kali, Surabaya dua kali, selebihnya, Solo, Medan, Makassar, Bandung, Palembang, Samarinda Kaltim dan Pekanbaru Riau masing-masing satu kali. Di mana tahun 2016 ini Bandung terpilih kembali menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya.

Terpilihnya Jabar setelah menang biddyng enam tahun lalu, tepatnya tahun 2010.
Jabar pertama kali menjadi tuan rumah pada PON V tahun 1961. Pada tahun 1965 yang semestinya digelar PON VI, tidak dapat dilaksanakan lantaran adanya peristiwa berdarah G.30 S . Terjadi lompatan, PON VII pada tahun 1969yang diselenggarakan dengan tuan rumah Jatim (Surabaya) menjadi tuan rumah pertama. Ini sejarah bagi Papua (Irian Barat) yang untuk pertama kali ambil bagian sebagai peserta PON VII. Hasilnya lumayan karena langsung menduduki urutan 15 dari 26 provinsi yang ikut berlaga dengan torehan Satu Medali Emas dari Cabor Atletik, nomor lempar lembing atas nama Adolina Rerey..

Jabar baru mendapat kesempatan lagi untuk kali kedua selama 55 tahun menunggu (1961 – 2016). Sehingga untuk urusan PON tentunya tuan rumah Jabar sudah sangat berpengalaman walaupun dari sisi sumber daya manusianya (SDM) sudah banyak berganti dengan yang muda karena factor usia atau telah meninggal dunia.

Dari pengalaman ketika Jabar menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan (PORWANAS) XII yang berlangsung tanggal 25 hingga 30 Juli 2016 lalu memberi gambaran betapa siapnya tuan rumah menyongsong PON XIX September tahun ini, tepatnya tanggal 17 – 29 September 2016. Dengan adanya pengecualian bagi sejumlah cabang olahraga yang dimainkan sebelum hari Pembukaan. Tercatat ada 16 cabang olahraga yang mulai berlaga sebelum pembukaan 17 September 2016. 16 cabor itu terdiri dari Hoki Indoor (13 Sept), Bola Voli Pasir, Renang, Polo Air Putra, Gantolle (Lintas Alam), Drumband, Sepakbola, Dayung (14 Sept) Judo, Catur, Futsal, Berkuda (Pacu), (15 Sept) dan Paralayang, Selam Kolam, (16 Sept)

Dari persiapan yang dilakukan, boleh dikatakan Jabar benar-benar mengejar target yang telah ditetapkan dengan “Empat Sukses” atau Catur Sukses yaitu, Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi/Juara Umum, Sukses Perekonomian Rakyat dan Sukses Administrasi. Sukses yang terakhir ini untuk menyelamatkan Jabar jaquh dari Kuningan/KPK. Ini berangkat dari pengalaman PON2 sebelumnya yang berujung di gedung KPK Kuningan Jakarta.

Hampir seminggu berada di Jabar, boleh dikatakan tuan rumah Jabar telah siap menjamu tamunya dari 33 Provinsi dan telah siap ‘tempur’. Mulai dari sebaran venues pertandingan, kesiapan Panitia Besar PON XIX seperti Kesekretariatan, Pertandingan, Akomodasi/Pemondokan, Konsumsi, Transportasi, Kesehatan, Keamanan, Upacara dan TIK serta mempercantik Kota yang menjadi pusat kegiatan, semuanya telah siap menyambut tama-tamu agung yang dating dari luar provinsi Jabar. Tercatat ada 16 Kabupaten dan Kota yang telah disiapkan menampung 9.265 atlet pa/pi dan 4.073 official. Data sesuai entry by name. Tetapi sebuah sumber menyebutkan bahwa jumlah ini akan terus membengkak, khusus untuk para official. Pertimbangannya, karena Jabar adalah salah satu provinsi destinasi wisata di tanah air. Sehingga diperkirakan menyedot banyak pelancong. Belum lagi akomodasi untuk SDM Panpel Cabor yang akan ditempatkan di 106 hotel, tempat kost dan tenda2 darurat. Seperti diketahui 202 hotel di Jabar sudah fully book (dipakai PB untuk akomodasi tamu2 dari 33 provinsi. Untuk tamu-tamu VVIP dan VIP diperkirakan berjumlah 259 orang telah disiapkan di Trans Luxury Hotel dan Ibis Hotel.

Sesuai data PB PON XIX, penyelenggaraan PON kali ini berbeda dengan PON V/Jabar tahun 1961, 55 tahun yang silam. Kali ini, 16 Kabupaten/Kota terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan. Lokasi Pertandingan tersebar di 16 Kab/Kota, masing-masing, Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Ban dung Barat, Kab. Sumedang, Kab. Bogor, Kab. Indramayu, Kota Cimahi, Kab. Pangandaran, Kab. Subang, Kab. Karawang, Kab. Sukabumi, Kota Cirebon, Kab. Bekasi, Kota Bekasi Kab. Ciamis dan Kota Tasikmalaya. Penyebaran lokasi pertandingan ini agak meringankan tuan rumah dalam hal akomodasi dan penyebaran penduduk karena tidak bertumpuh di satu titik. Tapi pada waktu2 tertentu, kota bandung akan kebanjiran lautan manusia.

Singkat kata, tuan rumah melalui PB PON-nya telah siap mengantisipasi semua hambatan yang mungkin terjadi. PB PON XIX yang bermarkas di Gedung B Sekretariat Daerah, bekerja 24 jam sejak PORwanas dibuka. Meng update Data day by day sehingga mudah2an semua masalah yang mungkin terjadi bisa diatasi dengan baik.
Untuk upacara pembukaan dan penutupan, telah dipersiapkan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) sebuah stadion olahraga yang megah yang mampu menampung sedikitnya 50ribu pengunjung dimana telah disiapkan tarian kolosal yang diikuti 3.000 penari, puluhan artis dan seniman se Jabar. Dalam upacara penutupan nanti akan diserahkan panji-panji PON kepada Provinsi Papua sebagai cikal-bakal Tuan Rumah PON XX/Tahun 2020.

Akhir dari tulisan ini, ada hal yang patut menjadi catatan bukan saja tuan rumah tetapi terutama juga bagi peserta termasuk kontingen Papua. Masalah yang nanti menjadi hambatan bagi setiap peserta PON adalah factor transportasi local. Bagi kedatangan Kontingen sudah tidak ada masalah karena PB PON telah mensiasati hanya ada Tiga titik penjemputan yaitu Bandara Husein Sastranegara, Stasiun KA Bandung dan Bale Pare Kota Baru Parahyangan.

Yang bakal menjadi handycup adalah masalah angkutan local. Dalam kondisi sekarang ini, kondisi jalan di kota2 di jabar sudah tidak dapat menampung lagi kendaraan baik yang dalam kota, antar kota sejabar maupun yang masuk dari luar kota (dari pulau Jawa maupun Sumatra.). Di prediksi PON nanti, akan bertambah sedikitnya 10ribu kendaraan. Membuat kemacetan sulit dihindari. PB PON XIX menyadari hal ini dengan melakukan rekayasa arus lalin. Mudah2an cara ini bisa membantu. Ini kendala yang bakal dihadapi nanti. Masalah lain menyangkut akomodasi. Jumlah manusia yang masuk dari luar akan terkendala masalah penginapan. Bersambung

Oleh : M. Usman Fakaubun. (Penulis adalah Pemerhati Olahraga)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*