Perkembangan Jaringan Teroris di Indonesia Pasca Melemahnya ISIS di Suriah

0
36

 

Kelompok radikal ISIS mulai melemah di Suriah. Wilayah kekuasaaan ISIS  berkurang di Irak dan Suriah.  Daerah Fallujah  yang sebelumnya dikuasai ISIS mulai dapat dikuasai kembali oleh Pemerintah Irak. Basis utama ISIS di Libya yang terletak di kota Sirte sudah mulai dapat dikuasai oleh Libya. Serangan bertubi-tubi diterima ISIS di beberapa tempat. Di Suriah, ISIS mendapat serangan signifikan dari aliansi Kurdi dan Arab. Amerika memberikan tekanan cukup kuat kepada ISIS dengan melakukan serangan secara bersamaan di beberapa pertahanan ISIS. Tekanan dari banyak pihak ini membuat ISIS semakin tidak berdaya.

Sebelumnya ISIS menjadi kelompok radikal yang menarik para simpatisan dari seluruh negara termasuk Indonesia. ISIS tidak hanya menjual ideologi, tetapi juga mampu membiayai aksi-aksi teror di berbagai negara. ISIS adalah kelompok radikal yang kaya. Hal inilah yang menjadi daya tarik kelompok radikal di Indonesia untuk berafiliasi dengan ISIS. Dengan berafiliasi kepada ISIS maka diharapkan ada kucuran dana bagi aksi-aksi kelompok radikal di Indonesia. Hal ini sudah terbukti ada campur tangan ISIS dalam aksi-aksi teror seperti yang terjadi di Thamrin dan Mapolresta Solo.

Sumber Dana

Adanya bantuan dana dari ISIS Suriah kepada kelompok radikal di Indonesia tidak perlu dikagetkan. Saat ini terdeteksi ada tiga orang Indonesia yang mempunyai posisi penting di ISIS Suriah yaitu Bahrun Naim, Banrumsyah, dan Abu Jandal. Ketiga orang tersebut yang diduga menjadi pengendali dan penyandang dana bagi kelompok radikal di Indonesia yang telah menyatakan setia kepada ISIS. Selain tiga orang Indonesia tersebut, laporan intelijen menyebutkan bahwa terdapat 518 orang dan 48 anak Indonesia di Suriah. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ada hubungan antara ISIS di Suriah dan kelompok radikal di Indonesia.

ISIS dalam kondisi terjepit. Setelah ISIS melemah tentu akan membawa dampak bagi kelompok radikal di Indonesia yang diduga mendapat pasokan dana dari ISIS di Suriah. Mau tidak mau jika ingin tetap eksis maka kelompok radikal di Indonesia harus mencari sumber dana lain, atau jika tidak memperoleh dana maka kelompok ini sementara akan “tidur” sambil menunggu kucuran dana. logistik dan momentum yang tepat untuk bangkit lagi.

 Bahaya Arus Balik

Dampak lain atas melemahnya ISIS di Suriah adalah bahaya arus balik. Ratusan orang Indonesia yang berada di ISIS tentu tidak akan bertahan terus di Suriah. Ratusan orang tersebut selama di Suriah sudah memperoleh pengalaman baru, ideologi yang lebih kuat. Dalam kondisi yang semakin tidak baik maka jika terpaksa harus angkat kaki dari Suriah, pilihan mereka adalah kembali ke Indonesia. Kemungkinan lain jika mereka tidak kembali di Indonesia adalah membangun sel di Filipina, mengingat ada kedekatan dan hubungan antara kelompok radikal Indonesia dengan kelompok radikal di Filipina.

Ratusan orang ini jika kembali ke Indonesia tentu saja akan meneruskan aksi mereka. Kelompok arus balik ini harus dicegah sejak dini supaya tidak dapat melakukan aksi di Indonesia. Keberadaan mereka di Suriah  yang telah membantu kelompok teroris ISIS,  yang telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia, harus segera diproses secara hukum. Ketegasan pemerintah ini penting untuk memastikan bahwa pemerintah mempunyai sistem deteksi dini dan pencegahan dini atas berkembangnya sel / kelompok radikal baru hasil arus balik simpatisan ISIS di Suriah yang berasal dari Indonesia.

 Perkembangan Kelompok Radikal

Pasca melemahnya ISIS tentu akan berdampak pada kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS. Kelompok radikal di Indonesia untuk sementara waktu akan menjadi sel tidur. Aktivitas mereka sementara waktu akan melemah terkait dengan terputusnya aliran dana dari ISIS di Suriah.

Dampak yang lain adalah adanya tambahan “pasukan” bagi kelompok radikal dari arus balik simpatisan ISIS di Suriah dari Indonesia. Tambahan pasukan ini pelan-pelan akan membangunkan kembali sel tidur kelompok radikal. Dengan adanya tambahan tenaga, dan pelan-pelan mulai mencari sumber dana, misalnya dengan mencari donatur atau melalui fai (merampas/merampok) maka kelompok radikal di Indonesia akan beraksi kembali.

Dalam beberapa waktu ke depan kelompok radikal di Indonesia akan disibukkan dengan konsilidasi internal, menjadi sel tidur. Namun setalah ada tambahan tenaga (pasukan), menemukan sumber dana, dan adanya momentum yang tepat maka kelompok radikal di Indonesia akan kembali beraksi, bahkan diduga bisa lebih besar dari aksi sebelumnya.

Melemahnya ISIS di Suriah bukan berarti kelompok radikal di Indonesia turut melemah. Kelompok radikal di Indonesia jutsru akan konsilidasi dan menemukan bentuk baru yang bisa jadi lebih besar dari sebelumnya. Perlu strategi yang tepat untuk menghadapi hal tersebut.

* Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, alumnus Program Pascasarjana S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia. Oleh : Stanislaus Riyanta *)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*