| Tomas Mimika Resah Penembakan Terus Berlanjut di Papua |
|
|
|
| Ditulis oleh (hdm/roy/LO1) | ||||||
| Kamis, 27 Oktober 2011 16:17 | ||||||
|
TIMIKA—Sejumlah tokoh masyarakat Mimika beigut prihatin dan resah dengan adanya aksi penembakan dan tindakan kekerasan yang terus berlanjut di Tanah Mimika dan Papua umumnya yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Mereka meminta pemerintah pada semua tingkatan untuk segera menengahi dan menyelesaikan masalah ini, agar masyarakat dapat kembali tenang bekerja. Keprihatinan ini disampaikan Tokoh Masyarakat Mimika, yang juga mantan Ketua DPRD Mimika, Drs Yoseph Yopi Kilangin, Silas Natkime dan tokoh muda Mimika Anton Beanal kepada wartawan di Timika. Yopi kepada wartawan mengatakan, aksi penembakan, terror, kekerasan kerap terjadi di Bumi Mimika dan Kamoro dan di Tanah Papua yang tidak kunjung selesai, bahkan tiap hari selalu ada tembakan oleh orang tak dikenal. Dia mengatakan, siapapun orangnya yang mengangkat senjata lalu menembak mati orang lain tidak bisa diterima dengan alasan apapun. Secara kemanusiaan telah melanggar hak-hak hidup seseorang, dan dari sisi hukum penembak telah melakukan pelanggaran hokum berat terhadap orang yang tidak berdosa.Putra Tokoh Pejuang Pepera, Bapak Almarhum Mozes Kilangin, menyayangkan dalam situasi dan kondisi Papua yang semakin menuju ke arah yang lebih baik tapi masih ada kelompok atau oknum yang berkarakter pembunuh. Papua dalam beberapa tahun belakangan ini mulai kondusif, aman, orang sibuk dengan menata hidup dan ekonomi bagi keluarga dan masyarakat mereka. Namun belakangan ini warga mulai ditakutkan kembali setelah aksi penembakan merebak dimana-mana, terror dan ancaman terus terjadi. Gampang sekali orang membunuh orang lain tanpa ada penyesalan. Saya pribadi metara sedih, prihatin dengan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini. Masyarakat Mimika sangat membutuhkan kehadira pemerintah untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini. Yopi mengatakan kejadian seperti ini apakah masuk kategori pelanggaran HAM atau tidak. Warga menginginkan adanya penyelidikan dari pihak-pihak yang punya kewenangan terhadap bentuk penembakan, terror, ancaman ini. Sedangkan tokoh masyarakat Timika lainnya, Silas Natkime meminta semua pihak tetap tenang dan tidak terpancing dengan berbagai aksi penembakan yang terjadi di areal kerja PTFI hingga menewaskan beberapa warga sipil dan karyawan KPI, PT Puri. Silas meminta Manajemen PTFI, dan pemerintah untuk mempercepat penyelesaian perundingan PKB. Kepada pihak pemerintah dan aparat kepolisian secepatnya melakukan penyelidikan dan penungakapan oknum pelaku dialik aksi penembakan yang tersu terjadi di areal PTFI. Memang menurut Silas, dampak dari aksi penembakan beberapa kali warga tidak lagi bekerja ke kebun, warga tidak berani menambang pasir galian c di Mile 32, warga juga tidak berani melakukan aktifitas berlebihan diluar rumah pada malam hari. Tidak hanya itu, aksi yang terus berlanjut telah menganggu semua aktifitas masyarakat Kota Timika. Saat ini, semua pihak mengharapkan bantuan serius dar pemerintah mulai pemerintah daerah (Pemda) Mimika sampai dengan pemerintah pusat (Pempus) di Jakarta. “ Saya tidak bicara soal Puncak Jaya dan Jayapura, tapi saya hanya melihar “rumah honai” saya di Timika yang terus diguyur masalah. Silas menugusulkan ada ketegasan dari pemerintah supaya masalah ini satu-persatu bisa diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama. Karena yang ditakutkan bila masalah ini tidak ditangani dengan baik, terus menerus molor atau dibiarkan akan berdampak buruk pada kamtibmas dan pembangunandi daerah ini. Sedangkan Tokoh Pemuda Mimika, anton Beanal, hanya menitipkan satu pesan, SPSI dan Manajemen PTFI segera menyelesaikan perundingan. Selain itu, pemda dan Pemerintah Pusat, DPRD Mimika dan DPR RI, Mabes Polri, Komnas HAM turun untuk menyeesaikan masalah ini sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Saat ini Timika seperti mencemam dalam artian, warga ketakutan mau bekerja seperti petani takut kekebun, pendulang takut mendulang di sungai jangan-jangan jadi korban penembakan lagi, penambangan pasir galian C di ile 32 sepi takut menjadi korban sasaran penembakan. Selain itu dia menyoroti pemalangan yang terus terjadi itu sangat merugikan masyarakat di Kabupaten Mimika. “ Kami tidak berpihak ke PTFI (manajemen PTFI) atau ke SPSI PTFI, karena kami tidak dapat apa-apa dari mereka. Sebagai anak asli, pemliki hak ulayat di Tembagapura dan di Timika kami berhak bicara supaya untuk kepentingan masyarakat umum jangan dihalang-halangi karena itu kita telah merampas hak orang,” tekan Anton. (hdm/roy/LO1)
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |



