| Warga Tinggalkan Kampung Nayaro |
|
|
|
| Ditulis oleh (hdm/roy/LO1) | ||||||
| Rabu, 26 Oktober 2011 20:48 | ||||||
|
TIMIKA—Sejak insiden penembakan merebak di areal kerja PTFI, warga Kampung Nayaro, Distrik Mimika Baru merasa ketakutan , bahkan seluruh warga telah meninggalkan rumah mereka dan bermukim di sekitar pinggir sungai endapan tailing. Selain itu sejak aksi tersebut berlangsung selama 3 kali dalam beberapa minggu terakhir ini kendaraan angkutan penumpang tidak lagi masuk ke Nayaro, yang menyebabkan pasokan kebutuhan warga mulai menipis. “ Selain alasan ketakutan jangan-jangan aksi tersebut bisa masuk ke kampong Nayaro, masyarakat Nayaro tidak bisa turun naik ke Timika. Bahkan anak sekolah tidak bisa sekolah sejak aksi penembakan mulai terjadi. Kampung Nayarao saat ini kosong, warga kebanyakan bermukim di tenda-tenda di pinggir sungai endapan tailing dan sebagian sudah menyeberang ke Timika,” kata Kepala Kampung Nayaro, Herman Apoka kepada wartawan di depan Kantor DPRD Mimika, Rabu (26/10/2011). Herman menjelaskan tempat kejadian dari tiga kali peristiwa penembakan tepatnya ada di jalan poros Timika-Nayaro yang terletak disekitar tanggul timur, mile 39 dn mile 40. Kampung Nayaro sebetulnya letaknya masih di areal konsesi PT Freeport Indonesia (PTFI), dan jalan satu-satunya melalui daerah yang sering terjadi penembakan ini. Herman menjelaskan, saat ini mesin genset listrik sudah tidak bisa menyala karena tidak ada solar. Warga akan meminta Sosial Local Development (SLD) PTFI dapat mengantar solar dari tanggul timur hingga daratan sekitar Nayaro. Menyikapi hal tersebut, Aparat Kampung Nayaro bersama tokoh-tokoh datang menyampaikan keluhan ke Pimpinan dan Anggota DPRD Mimika agar segera menyikapi dan penuntaskan aksi penembakan aksi mogok karyawan, dan membuka kembali semua akses jalan agar tidak menganggu pelayanan umum kepada masyarakat. “ Hari ini kami sampaikan surat keluhan secara resmi kepada Ketua DPRD Mimika, Trifena M Tinal, BSc. Warga minta DPRD segera mengundang pemerintah daerah, Polres, dan kesatuan TNI yang ada di daerah ini agar segera membahas keamanan dan ketertiban daerah ini dalam beberapa minggu belakangan ini,” ujar Herman.Selain warga tinggalkan kampung, anak sekolah diliburkan, genset tidak berfungsi, Herman menjelaskan sejak penembakan terjadi bus angkutan penumpang tidak lagi masuk ke Kampun Nayaro, petugas kesehatan dari Malcon PHMC juga tidak lagi melayani masyarakat, dan petugas-petugas lainnya tidak berani datang ke Nayaro. Untuk itu, warga Nayaro mengharapkan ada sikap tegas dari pemerintah dan otoritas PTFI untuk segera menyelesaikan berbagai permasalahan yang sudah berbulan-bulan belum ada penyelesaian antara karyawan dan Manajemen PTFI. Terpisah Ketua DPRD Mimika, Trifena M Tinal, BSc , meminta kepada warga kampung Nayaro bersabar karena DPRD Mimika pasti akan membahas keluhan yang disampaikan masyarakat ke DPRD. DPRD kata Trifena, melihat masalah ni sangat serius perlu ada penanganan secepatnya oleh semua pihak yang ada di daerah ini mulai dari pemda, dewan, muspida dan muspida plus, pihak Polri/TNI dan PTFI sendiri. “ Kasihan sekali kalau kampong kosong, warganya berlarian dan bermukim di pinggir-pinggir sungai karena takut dan cemas terhadap insiden penembakan yang tidakk pernah berhenti,” ujar Trifena. (hdm/roy/LO1)
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |



