Industri Berbasis SDA Daerah Perlu Ditingkatkan

JAYAPURA – Saat ini diperlukan peningkatan pengembangan industri berbasis Sumber daya Aalam (SDA)  [ ... ]


1.500 ekor Labi-Labi Moncong Babi Dilepasliarkan

SENTANI - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dengan menggandeng pihak PT Freepor [ ... ]


Dewan : Di Sentani Timur Banyak Guru SD Malas

SENTANI - Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jayapura Frangklin Wahey, S.Sos menemukan sejumlah guru di D [ ... ]


Jumat, 18 Mei 2012
Home Mimika Jangan Bawa Nama Tujuh Suku Selama Mogok SPSI
Jangan Bawa Nama Tujuh Suku Selama Mogok SPSI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh (hdm/aj/LO1)   
Selasa, 11 Oktober 2011 15:44

TIMIKA - Bug Negel sekaligus pemilik hak ulayat di areal tambang PT Freeport Indonesia Tembagapura, Silas Natkime meminta kepada SPSI PTFI dan siapa saja yang terlibat dalam mogok kerja karyawan PT Freeport Indonesia untuk tidak membawa nama tujuh suku (Amungme, Kamoro, Damal, Nduga, Dani, Mee, Moni) atau kelompok-kelompok marga masyarakat asli selama aksi tersebut. Karena yang menggelar mogok kerja atas nama PUK FSP KEP SPSI PTFI, bukan atas nama tujuh suku.

“ Setelah persoalan ini tidak bisa selesai, jangan seenaknya menyerahkan persoalan ini kepada karyawan tujuh suku atau karyawan orang asli Mimika. Saya sangat tidak setuju karena, hajatan ini milik SPSI  yang merupakan organisasi serikat pekerja resmi yang diakui oleh negara dan  bukan atas nama tujuh suku,” kata Silas.

Dikatakan,  pihaknya sudah dari awal mengatakan netral terhadap persoalan tersebut. “Saya tidak membela manajemen (PT Freeport Indonesia) sebaliknya saya tidak membela SPSI. Saya datang menetralkan kedua belah pihak, yang ternyata segala upaya yang kami lakukan selama ini mereka tidak ikuti,” jelasnya Silas mengatakan bersama Tokoh Masyarakat Mimika, Athanasius Allo Rafra, SH.M.Si telah mengadakan pertemuan dengan SPSI berulangkali. Pokok-pokok pikiran, saran sudah begitu banyak yang mereka sampaikan, diikuti. Termasuk sejak awal dikatakannya, telah menjelaskan kepada pengurus SPSI sebagai sebuah organisasi resmi yang memayungi para pekerja yang diakui pemerintah Indonesia, dalam perjuangan jangan bawa-bawa nama suku, nama marga, atau nama masyarakat Papua.

“ Kalau SPSI merasa mampu menyelesaikan masalah ini tidak harus mengajak orang lain. Saya minta kepada saudara-saudara saya tujuh suku, masyarakat asli Mimika untuk tidak menjadi tameng dalam perjuangan ini. Sebagai pemilik hak ulayat (Bug Negel) saya berhak tetap mempertahankan PT Freeport Indonesia untuk terus beroperasi. PTFI ibarat lambang besar yang menjadi simbol orang sini. Kehadiran PTFI telah mencerdaskan kami orang koteka ini,” kata Silas.

Persoalan yang sedang terjadi, Silas menegaskan ini persoalan SPSI dengan manajemen, bukan persoalan tujuh suku dengan manajemen. Masyarakat tujuh suku tidak mau terbawa dengan kepentingan ini yang tentunya turut merugikan warga tujuh suku.

“Dua kelompok ini punya masalah, san saya tidak inginkan orang saya, masyarakat tujuh suku atau karyawan daru tujuh suku masuk terlibat dalam persoalan ini. Kami tidak mau diperalat untuk kepentingan segelintir orang saja,” tegasnya.

Sementara Tokoh Masyarakat Mimika, Athanasius Allo Rafra, SH.M.Si kepada wartawan mengatakan, mestinya masyarakat Mimika tidak menghendaki masalah seperti ini terjadi bila alur komunikasi antara kedua belah pihak berjalan dengan baik.

Dia berharap pihak-pihak yang bertanggungjawab, para tokoh masyarakat, pemerintah daerah, DPRD setempat kedua belah pihak dapat duduk bersama dengan kepala dingin menyelesaikan masalah ini dengan arif dan bijakasana.

“Mari kita duduk bersama-sama dengan baik. Kita bermusyawarah, kita mempertimbangkan semua langkah kemudian kita mengambil satu keputusan yang terbaik. Kita tahu kondisi kita disini seperti apa, kitapunya masyarakat,” ujarnya. (hdm/aj/LO1)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Editorial

Bual – Bualan Poli”Tikus”

Perdasus Pilgub masih menjadi pertentangan, masing – masing pihak bertahan dalam asumsi dan pandangan hukum masing – masing, yang menurut mereka adalah kebenaran dan atas nama rakyat, namun semuanya bermuara pada satu ajang perebutan kekuasaan demi mempertahankan kepentingan diri,  kelompok dan golongan masing – masing.
Konsekuensi dari pertentangan tersebut sudah pasti molornya pelaksanaan Pilgub di Provinsi Papua, dan sudah molor 8 bulan lamanya, tidak dapat dipungkiri akar masalah molornya itu adalah karena masih adanya pihak yang sangat berambisi untuk menjadi penguasa di atas Tanah Papua ini, demi obsesi pribadi dengan berlindung di balik nama hak warga negara, dengan memanfaatkan celah hukum dan kesemrawutan tata hukum di negara bernama Republik Indonesia ini.
Penafsiran – penafsiran hukum untuk serangkaian kosa kata yang jelas, terkadang dipelintir sedemikian rupa sehingga masyarakat dianggap tidak mengetahui apa niat dan maksud yang tersembunyi di balik itu semua.
Tapi it [ ... ]


Opini

ANEKSASI, POLITISASI DAN EKSPLORASI JARGON USANG TANPA DASAR

Anggota Kongres Amerika Serikat Eni Faleomavaega menegaskan pihaknya tidak mendukung kemerdekaan Papua, tetapi menyetujui otonomi khusus bagi provinsi itu sebagaimana Republik Indonesia memberlakukannya di Aceh. “Eni Faleomavaega, berharap pemberlakuan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua secara serius dan konsisten oleh pemerintah RI,” demikian, dilaporkan anggota Kaukus DPR RI-AS Eva Kusuma Sundari dari Washington D.C. kepada ANTARA di Semarang, Kam [ ... ]


Tanggapan Berita

Kirimkan tanggapan anda Via SMS ke Nomor 081248802200 terhadap EDITORIAL Bintang Papua hari ini. Untuk tanggapan yang di nilai terbaik akan mendapatkan souveneir (Cinderamata) khas Bintang Papua. Tanggapan anda juga dapat di akses di http://bintangpapua.com

Pace Bintul