Manokwari Alami Dampak  Lanina Sepanjang Tahun 2016

0
40

Manokwari – Kabupaten Manokwari, Papua Barat dan sekitarnya mengalami dampak fenomena alam lanina sepanjang tahun 2016.

Kepala Stasiuan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Manokwari Denny Putiray di Manokwari, Jumat, mengatakan, dampak lanina cukup terasa di Manokwari, curah hujan berlangsung cukup tinggi sejak Januari hingga Oktober 2016.

“Sepanjang tahun 2016 curah hujan di Manokwari diatas rata. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dan April. Hingga saat ini, dampak Lanina pun masih terjadi meskipun intensitas hujan sudah mulai berkurang,” kata Denny.

Dia menjelaskan, bulan Oktober wilayah Manokwari sudah masuk musim penghujan. Curah hujan masih rendah dan sudah berkurang dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Pihaknya berharap dampak Lanina terus berkurang, sehingga saat masuk musim hujan tidak ada hujan ekstrim yang berdampak pada bencana alam seperti banjir dan longsor.

Dia menjelaskan, sepanjang tahun 2016 curah hujan rata-rata diatas normal meskipun sudah masuk musim kemarau. Hal ini terjadi akibat pengaruh laninan.

“Hujan normal terjadi pada Maret, pada bulan Mei dibawah normal. Pada Januari, Februari, April, Juni, Juli Agustus hingga Oktober ini rata-rata hujan diatas normal,” kata dia lagi.

Denny memprakirakan, memasuki musim hujan ini curah hujan akan terus meningkat. Warga diminta waspada terutama yang berada di daerah rawan banjir dan longsor.

Warga pun diminta mewaspadai aktivitas angin, dan petir pada pancaroba ini. Pada musim hujan ini terutama pada musim pancaroba ini, awan Comolonimbus akan sering muncul.

“Awan ini bisa menimbulkan hujan lebat bisa memicu munculnya angin dan guntur,” ujarnya menambahkan.

Untuk angin puting beliung, katanya, secara teori tidak bisa terjadi di Manokwari, karena daerah ini berada di wilayah katulistiwa. Meskipun demikian, sesuai riwayat kejadian Manokwari pernah diterpa angin tersebut. Untuk itu warga diminta terus waspada.

Tahun ini, tepatnya pada April lalu sejumlah wilayah Kabupaten Manokwari dan Pegunungan Arfak tertimpa musibah banjir dan longsor.

Di Manokwari, banjir terjadi akibat luapan sungai Wosi Distrik Manokwari Barat, dan beberapa sungai di wilayah Distrik Masni dan Sidey. Ratusan rumah terendam akibat banjir tersebut.

Banjir di Manokwari pun mengakibatkan kerusakan pada jaringan irigasi pertanian dan merusak ratusan hektare sawah.

Sementara di Pegunungan Arfak, puluhan rumah warga luluh lantak diterpa banjir dan longsor. Hingga saat ini sejumlah warga masih bertahan di tenda pengungsian.

Pemerintah Pegunungan Arfak bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat dan Pegunungan Arfak sedang mengupayakan hunian tetap bagi warga yang tertimban bencana longsor dan banjir bandang tersebut.

Kepala BPBD Provinsi Papua Barat Derek Ampnir pada wawancara sebelumnya mengatakan, pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor Pegunungan Arfak ditargetkan selesai sebelum Desember 2016.Budi Suyanto. (ant/don)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*