Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081344259201, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Jum'at, 12 April 2013 06:50

GUBERNUR PAPUA

Taksir item ini
(0 pilihan)

GUBERNUR PAPUA

Sambutan
Gubernur Papua
Pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda)
Provinsi Papua Tahun 2013 Dalam Rangka Penyusunan RKPD Tahun 2014
Jayapura, 11 April 2013

Syalom,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh,

YANG SAYA HORMATI,  

Menteri Perencanan Pembangunan Nasional/Bappenas atau yang mewakili,
Menteri Dalam Negeri atau yang mewakili,
Ketua Majelis Rakyat Papua beserta seluruh anggota,
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua, para Pimpinan, beserta seluruh anggota,
Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah,
Wakil Gubernur dan Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah,
Para Bupati dan Walikota se-Provinsi Papua,

Para Tokoh Adat dan Tokoh Agama,
Sekretaris Daerah, para Asisten, dan para Pimpinan SKPD di lingkungan Provinsi,
Para Ketua DPRD Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua,
Para Ketua Bappeda Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua,
Para pimpinan Instansi Vertikal dan BUMN di Provinsi Papua,
Para Pimpinan Perguruan Tinggi, Organisasi Kemasyarakatan, Dunia Usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Profesi, Organisasi Sosial/Politik, dan Organisasi Kepemudaan,
Dan, Para undangan, hadirin, dan seluruh rakyat Papua yang berbahagia,

Hari ini adalah hari ketiga setelah saya dilantik sebagai Gubernur Provinsi Papua dan saudara Klemen Tinal sebagai Wakil Gubernur Provinsi Papua Periode 2013 – 2018. Pada kesempatan yang bersejarah dan penuh berkat ini, saya dan Wakil Gubernur boleh menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Penjabat Gubernur Papua, Pimpinan dan anggota MRP, Pimpinan dan anggota DPRP, dan semua pihak yang saya tak bisa sebut satu persatu, yang telah bersama-sama bekerja keras di dalam mengelola pesta demokrasi pemilihan Gubernur.
Kita semua boleh bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan kasih-Nya yang telah melimpahkan kesejukan dan kedamaian bagi Tanah Papua. Kita telah lalui hari-hari yang penuh dengan kompetisi di dalam pesta demokrasi. Namun, hari ini kita melangkah pasti untuk mewujudkan visi dan komitmen itu ke dalam kerangka pembangunan daerah yang terukur, bertahap, dan menyeluruh.
Ketika di Stadion Mandala, saya mengajak semua komponen masyarakat di Provinsi Papua untuk bersatu membangun daerah kita, membangun masa depan kita semua, dan membangun PERADABAN BARU.
Kamis pagi ini adalah hari yang bersejarah bagi saya dan Wakil Gubernur Klemen Tinal untuk mengawali komitmen kami dalam MENATA PERENCANAAN PEMBANGUNAN PAPUA. Sebagai forum tahunan yang rutin, saya memandang bahwa forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (MUSRENBANGDA) ini strategis sebagai pijakan awal di dalam menata pembangunan Papua.
Mari kita semua duduk dengan tenang untuk MENGGUMULI PERASAAN DAN NUANSA BATIN RAKYAT DI KAMPUNG-KAMPUNG YANG TINGGAL DI RAWA-RAWA, DI PERBATASAN PAPUA NEW GUINEA, DI LEMBAH DAN DI GUNUNG-GUNUNG, DI PESISIR PANTAI DAN PULAU-PULAU YANG TERPENCIL. Mereka semua menaruh harapan yang besar bagi kita semua di ruangan ini.
Saya yakin saudara-saudara selama ini telah mencurahkan waktu, tenaga, materiil, dan pikiran untuk kemajuan masyarakat di Tanah ini. Saudara-saudara tanpa lelah mendaki gunung dan menuruni lembah-lembah yang curam, menyeberangi sungai yang berbahaya, mengarungi lautan Pasifik dan lautan Arafura yang ganas. Semua itu saudara jalani dengan penuh pengabdian dan tanggung jawab untuk kemajuan pembangunan di atas Tanah ini. Di kesempatan yang mulia ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, dan sampaikan salam dan hormat saya dan saudara Wakil Gubernur Klemen Tinal kepada keluarga saudara-saudara. Semoga Tuhan memberkati saudara dan keluarga semua.

Hadirin yang saya cintai,
Hari ini kita mulai MENGISI LEMBARAN BARU DI BABAK BARU MENUJU PERADABAN BARU. Kita memulai langkah besar ini dengan merumuskan strategi pembangunan yang tepat, desain kebijakanyang terukur, skema anggaran yang terbagi secara adil dan merata, serta pengawasan yang terkendali.
Kita semua sebagai anak-anak Papua harus meletakkan landasan dan tahap demi tahap pembangunan di Tanah Papua. Sebelum kita berbicara rupiah demi rupiah, saya ingin mengajak kita semua untuk membangun desain besar mau di bawa kemana Perahu Besar Papua ini, dan juga, bagaimana Raksasa Papua ini Bisa Bangkit. Ini adalah pekerjaan rumah kita.
Sudahkah kita berpikir wajah Papua 20 Tahun ke depan di tahun 2033? Sudahkah kita berpikir wajah Papua 5 Tahun ke depan di tahun 2018? Sudahkah kita berpikir wajah dari Kampung-Kampung dan Kota-Kota Papua 5 Tahun, 10 tahun, dan 20 tahun ke depan?
Semua tujuan dan harapan itu harus kita tuangkan dalam lembaran skenario perencanaan yang terukur, tepat, tertata, dan bertahap secara komprehensif.
Disinilah, saya ingin menegaskan bahwa dalam 100 Hari ini, kita harus membangun desain pembangunan dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Papua Tahun 2013 – 2018. Dan dalam 6 bulan ke depan, kita harus susun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2013 – 2033.

Saudara-saudara yang saya banggakan,
Mungkin saudara sering mendengar saya mengucapkan kata PERADABAN BARU. Mungkin saudara di dalam hati bertanya apa makna dari 2 (dua) kata itu?
Sebenarnya 2 (dua) kata itu telah melekat dan berakar lama sejak nenek moyang kita di Tanah Papua, dan ini menjadi pijakan ke depan.
Pertama, nilai kesetaraan yang saling menghargai. Kita orang Papua memiliki harkat dan martabat yang sama dengan setiap anak bangsa di Republik ini maupun umat manusia di seluruh dunia. Kita harus percaya diri, kita harus optimis. Kita bukan warga kelas dua. Kita adalah pemilik sah dari Republik ini.
Kedua, nilai kesantunan, dan keadilan. Dalam kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan, Kita orang Papua adalah manusia yang beradab. Menjunjung nilai kasih-mengasihi, santun, sederhana, toleransi, empati dan prihatin atas penderitaan rakyat yang masih tinggal di atas pohon, di hulu-hulu sungai, di lembah-lembah dan di balik gunung, di pulau-pulau kecil yang jauh dari jangkauan pelayanan.
Ketiga, Kasih Menembus Perbedaan. Kasih itu murah hati, lemah lembut, tidak sombong, panjang sabar, dan cinta antar sesama. Kasih itutidak tumbuh di ruang yang hampa,namun Kasih itu hidup di atas Tanah Papua, Tanah Firdaus.Di sini, ada beragam suku, etnik, agama, dan golongan. Karena itu, Kasih harus menembus sekat-sekat sosial itu.
Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk merumuskan nilai-nilai Kesetaraan, Keadilan, dan Kasih Menembus Perbedaan ke dalam skenario dan desain pembangunan yang lebih khas ke-Papua-an, sehingga berkontribusi bagi pembangunan ke-Indonesia-an secara nasional.
Kita rumuskan pembangunan untuk semua, pertumbuhan yang disertai pemerataan, dan pembangunan yang menghormati alam ini, lingkungan hidup kita.

Saudara-saudara,
Papua Bangkit, Mandiri, dan Sejahtera adalah visi yang kita tetapkan. Visi ini sebagai pedoman kita di dalam merumuskan RPJMD Provinsi Papua Tahun 2013-2018.  Selanjutnya, visi ini juga memberikan landasan di dalam penyusunan RPJP Provinsi Papua Tahun 2013-2033.
PERTAMA, AGENDA PAPUA BANGKIT. Kita orang Papua harus berdiri tegak dengan harkat dan martabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa menghilangkan identitas diri dan kekhusuan ke-Papua-an.
Dalam konteks yang lebih khusus, kebangkitan rakyat Papua harus terjadi level individu, keluarga, komunitas, maupun regional. Identitas diri orang Papua diakui dan dihormati dalam berbagai arena publik. Karena itu, orang Papua harus tampil dan mengambil peran di berbagai sektor, apakah di sektor pemerintahan, sektor dunia usaha, ataukah sektor sosial.
Misalnya saja, anak-anak Papua harus tampil mengemban amanah di berbagai Kementerian/Lembaga dan BUMN di level nasional.Karena itu, saya akan inventaris putra-putra terbaik Papua guna berkarier di tingkat nasional.  Anak-anak Papua tampil di arena publik dengan berbagai profesi yang andal. Panji-panji Merah Putih dikibarkan oleh anak-anak Papua di berbagai kompetisi seni danolah raga di luar negeri. Mereka boleh bangga sebagai anak-anak Papua. Kita jangan hanya jago kandang, namun kita juga harus jago tandang.
Untuk itu, apa yang harus kita lakukan?  Kita perlu wujudkan kebijakan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang komprehensif, terukur, dan bertahap di semua sektor dengan menerapkan pendekatan kewilayahan (regional approach).
Saudara-saudara, agenda kedua kami adalah Papua Mandiri. Kemandirian adalah hakekat dari otonomi khusus. Kemandirian bukanlah kemandirian dalam keterisolasian. Kemandirian mengenal adanya saling ketergantungan dan keterbukaan.Oleh karena itu, untuk membangun Papua Mandiri, mutlak harus dibangun kemajuan ekonomi.Generasi baru Papua harus memiliki sifat entrepreneurs (wirausaha).
Ekonomi kampung harus tumbuh dan berkembang. Pengusaha orang Papua harus tampil secara professional.
Dalam konteks ini, saya instruksikan agar para Pimpinan SKPD di rumpun EKONOMI untuk rumuskan pembangunan ekonomi yang benar-benar yang cocok di Papua dan memiliki peluang bisnis. Untuk itu, segera petakan potensi wilayah, karakter ekonomi masyarakat setempat, pola kepemilikan tanah adat, komoditas apa yang cocok, institusi ekonomi apa yang berperan, dan bagaimana peta aksessibilitas atau konektiviti antarwilayah di Papua.
Terkait dengan hal itu, saya akan tekankan pentingnya dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Papua.  Jika substansi RTRWP telah disetujui oleh Pemerintah Pusat, maka segera kami bersama DPRP akan segera sahkan. Kami agendakan penetapan RTRWP Papua dalam Program 100 Hari. Sebagai catatan, saya ingin tegaskan bahwa struktur dan pola ruang, wilayah, dan kawasan ini tidak boleh mengabaikan keberadaan suku-suku asli yang hidup di wilayahnya.
Kita juga tidak pungkiri bahwa dewasa ini ekonomi perkotaan tumbuh dengan pesat di Papua. Sentra-sentra ekonomi tersebar di berbagai ibukota Kabupaten/Kota, baik di wilayah Pegunungan Tengah, Pesisir Utara, maupun Selatan Papua. Kita ingin orang Papua harus miliki peran di dalam perputaran ekonomi perkotaan. Saya juga mengajak para Bupati/Walikota untuk menata kota-kota yang ramah, indah, dan bersih. Saya menyambut beberapa Bupati yang melakukan inisiatif untuk membangun kota-kota baru, baik di wilayah Pegunungan Tengah, wilayah selatan dan di wilayah utara Papua.
Sebagai Papua yang terbuka di kawasan Asia Pasifik, kita akan perlu membangun Biak sebagaihub internasional di wilayah Timur Indonesia.Untuk itu, kita akan berusaha agar regulasi nasional mengijinkan penerbangan dunia internasional melalui Biak. Kita juga buka kawasan-kawasan potensial di wilayah Pegunungan Tengah, perbatasan PNG, wilayah selatan, maupun di wilayah Mamberamo-Sarmi-Jayapura. Indeks Kemahalan Konstruksi harus diperhitungkan oleh berbagai SKPD dan Instansi Vertikal di dalam mendesain program.
KETIGA, AGENDA PAPUA SEJAHTERA. Kita harus jujur menyimak pembincangan di ruang publik di Papua. Kita sering mendengar, siapa yang menikmati kue pembangunan ini? Otonomi Khusus ini untuk siapa? Marilah kita jadikan kritikan itu sebagai cambuk bagi kita untuk menata kembali apa yang telah kita lakukan untuk rakyat Papua. Kita semua di ruangan ini pasti menyadari masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang kita hadapi.

Mari kita rumuskan langkah yang tepat untuk memperbaiki dan mengangkat taraf hidup rakyat kita.
Kita harus curahkan perhatian yang besar kepada 4 sektor utama, yakni infrastruktur, ekonomi rakyat, pendidikan, dan kesehatan.

Sebelum berbicara lebih detail perihal 4 sektor itu, saya instruksikan agar setiap instansi Otonom dan Vertikal untuk merumuskan PENDEKATAN BARU dengan menyusun Master Plan, beserta rencana aksi (action plan) dari masing-masing sektor utama tersebut.
Dan, YANG TERPENTING, bahwa setiap Master Plan ini memiliki WILAYAH FOKUS yang akan dikelola secara TERPADU.  Dokumen ini mencantumkan pola pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat sesuai basis kewilayahan.  Kita ingin wajah pembangunan Pegunungan Tengah berubah. Kita ingin wajah pembangunan di wilayah Selatan berubah lebih baik. Kita ingin Teluk Cenderawasih lebih baik. Saya instruksikanBappeda dan SKPD teknis terkait untuk menyusun 4 Master Plan tersebut lebih secara terpaduberbasis kewilayahan atau kluster-kluster wilayah sebagai penjabaran lebih rinci dari RPJMD Provinsi Papua.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa kampung merupakan indikator dari perubahan taraf hidup. Program RESPEK akan kita evaluasi, dan kita rumuskan strategi dan kebijakan pembangunan kampung yang lebih tepat. Dan, dalam konteks itu, saya percaya kepada para Bupati dan Walikota sebagai ujung tombak pembangunan yang lebih mengetahui strategi apa yang cocok untuk kampung dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah, saya akan segera padukan semua program dan pembiayaan dari Kementerian/Lembaga yang ditujukan ke kampung-kampung.Setiap program dari SKPD harus terpadu, terfokus, dan tepat sasaran.
Ke depan, bersama kita pikirkan untuk mengubah nama RESPEK dengan nama yang lebih relevan dengan aksi nyata yang terpadu di kampung-kampung.
Salah satu nama yang sedang kita pikirkan adalah PROSPEK. Artinya, yakni Program Strategis Pembangunan Kampung.  PROSPEK bukan saja rencana, namun PROSPEK akan dilakukan dengan pendekatan Pembangunan Kampung Terpadu (PKT).
Begitupula, kita dorong pengembangan komoditas-komoditas unggulan lokal sesuai karakter sosial dan potensi wilayah. Rakyat harus memiliki pekerjaan dan pendapatan yang layak. Target kita jelas, yakni di tahun 2018, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) harus semakin meningkat, tingkat kemiskinan harus turun, tingkat harapan hidup meningkat, dan angka pengangguran semakin kecil.

Saudara-saudara yang saya hormati,
Kita menyadari bahwa merubah sesuatu tidaklah mudah, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Namun, perubahan itu pasti terjadi jika kita miliki sifat optimistik, kemauan, kerja keras, dan kebersamaan.
Guna mewujudkan 3 Agenda besar diatas, ada beberapa PRA-SYARAT yang mendasar dan bersifat terobosan (breakthrough).Tidak boleh langkah biasa atau konvensional saja, namun harus luar biasa.
PRA-SYARAT PERTAMA adalah KEWENANGAN yang LEBIH BESAR dari kewenangan hari ini. Kita sadari ada sejumlah kewenangan atau urusan yang masih dikelola oleh Kementerian/Lembaga, terutama di dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelayanan publik lainnya.
Kini saatnya kita lakukan EVALUASI MENYELURUH atas desain dan dampak UU No. 21 Tahun 2001. Kita evaluasi, kaji, dan konstruksi ulang apa kewenangan yang lebih besar untuk Papua. Langkah strategis sebagai bagian penting dalam Program 100 hari, dan saya ingin tukar-menukar pandangan dengan para Bupati dan Walikota menyangkut langkah strategis ini.
PRA-SYARAT KEDUA, adalahkapasitas kelembagaan daerah dan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Kewenangan dan keuangan yang besar tak akan berarti jika dikelola dengan kapasitas SDM yang terbatas.
Dengan semangat Peradaban Baru, kita harus tanamkan karakter disiplin, jiwa kepelayanan (stewardship), kepemimpinan (leadership), keikhlasan dalam pengabdian, profesional dan akuntabel, serta mampu menjadi contoh tauladan yang baik.
Saya menghendaki adanya gagasan baru yang inovatif muncul di kalangan birokrat.Dalam konteks tertentu, saya juga menghendaki adanya uji kelayakan dan kepatutan untuk mengurangi the wrong man in the wrong place.Saya menghendaki setiap kabupaten dan kota harus mampu mempromosikan aparatnya untuk ditempatkan pada jabatan penting di provinsi. Oleh karena itu, saya akan menyurati seluruh Bupati dan Walikota untuk setidaknya menyiapkan minimal tiga orang untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan pada jabatan Eselon Dua, Eselon Tiga, dan Eselon Empat di Provinsi. Kalau mereka lulus, selanjutnya menandatangani pakta integritas.
Kita semua berharap adanya the right man in the right place.Semangat seperti ini juga akan saya dorong di di Kantor-Kantor UPT, Instansi Vertikal, Balai-Balai, maupun BUMN yang beroperasi di Papua. Putra-putra terbaik Papua yang kompeten dan berkualitas harus didorong untuk berkarier di berbagai bidang dan sektor.

Saudara-saudara,
Selanjutnya, PRA-SYARAT KETIGA adalah penataan keuangan daerah. Saya akan mendorong desentralisasi fiskal yang lebih besar ke  kabupaten dan kota. Saya akan mengubah pola hubungan keuangan antara Provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk itu, sebanyak 80 persen akan kita desentralisasikan ke Kabupaten/Kota, dan 20 persen sisanya di Provinsi.

Kita wujudkan skenario 80:20, dimana 80 persen untuk kabupaten/Kota dan 20 persen untuk Provinsi, dengan skema perencanaan dan pengendalian yang baik. Sehingga indikator dan target di tahun 2018 dapat terwujud. Demikian pula, skenario penggunaan Dana Infrastruktur Otonomi Khusus akan kita desentralisasikan ke kabupaten/kota. Ada sejumlah kegiatan infrastruktur yang harus dikelola oleh Bupati dan Walikota.
Sejalan dengan semangat Papua Bangkit, Mandiri, dan Sejahtera, kita semua wajib mendukung langkah Bapak Presiden Republik Indonesia untuk melakukan Re-Negosiasi atas Kontrak Karya yang dianggap tidak adil di atas Tanah ini. Kita hargai peran dunia usaha, namun kita merasakan masih ada hal yang kurang tepat di dalam pengelolaannya.
Dalam waktu dekat, kita akan rumuskan langkah atas re-negosiasi kontrak karya itu. Saatnya, Pemerintah Daerah memiliki kepemilikan saham dalam usaha pertambangan yang dikelola Freeport Indonesia maupun investasi-investasi lainnya. Prinsip kita adalahWin-Win Solution untuk Semua.

PRA-SYARAT KEEMPATadalah Tata Kelola Pemerintahan yang baik dan bersih. Dan, untuk kebaikan bersama guna wujudkan Peradaban Baru di bidang kebijakan fiskal, kita akan lakukan Audit Keuangan. Iniberguna sebagai landasan penting melangkah ke depan. Satu rupiah yang jatuh dan mengalir di atas Tanah ini harus menghadirkan manfaat dan berkat untuk kesejahteraan rakyat.

Sejalan dengan itu, KITA AKAN PERKUAT ASPEK PERENCANAAN DAERAH. LEMBAGA BAPPEDA HARUS MENJALANKAN TUGAS DAN FUNGSINYA DENGAN TEPAT.
Saya instruksikan para aparat perencana provinsi dan para aparat bina program di setiap SKPD Provinsi dan Instansi Vertikal harus rajin turun ke lapangan, dan wajib berkoordinasi dengan para Bupati/Walikota dan jajarannya.
Sekali lagi, saya sangat percaya bahwa Bupati dan Walikota, dan seluruh aparatur di Kabupaten/Kota adalah ujung tombak pelayanan di berbagai pelosok daerahnya.
PRA-SYARAT KELIMA adalah BASIS DATA dalam pembangunan. Hal ini berguna untuk pembenahan perencanaan, kebijakan alokatif dan distributif, dan indikator kinerja dari tahun ke tahun. Dengan data yang tepat, kita kurangi overlapping pendanaan pembangunan. Basis data ini juga sangat berguna di dalam penyusunan RPJP, RPJMD, dan dokumen Master Plan sektoral yang kita susun bersama. Untuk itu, saya instruksikan setiap SKPD dan Instansi Vertikal untuk perbaiki data-data spasial dan sektoral guna keterpaduan langkah.

PRA-SYARAT TERAKHIR adalah memperkuat 3 Pilar Pembangunan di Papua, baik Pilar Adat, Pilar Agama, dan Pilar Pemerintahan. Saya sadar bahwa setiap langkah pemerintah tak akan mencapai hasil yang maksimal tanpa dukungan pilar adat dan pilar agama. Kita semua saling membutuhkan.

Untuk itu, saya dan Wakil Gubernur Klemen Tinal akan melakukan pertemuan yang rutin dengan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.  Kita akan bincangkan banyak hal, mencari titik temu dan solusi, dan melangkah bersama.
MRP dan DPRP adalah bagian dari pilar Pemerintahan. Kedua lembaga ini miliki peran yang strategis. Kami akan melakukan koordinasi dan konsultasi yang rutin dalam lima tahun ke depan.
Para Bupati dan Walikota adalah sahabat-sahabat saya, dan sebagai ujung tombak terdepan dalam pemerintahan. Kita bersama, Provinsi dan Kabupaten/Kota harus melangkah bersama dalam satu tarikan langkah yang harmonis dengan pijakan kewenangan dan urusan yang ada.

Saudara-saudara,
Perjalanan kita masih panjang, perahu besar Papua akan terus berlayar. Raksasa Papua ini harus bangkit, berdiri, dan melangkah.
Kita melangkah bersama dan padukan kebijakan nasional dan regional. Kebijakan nasional seperti kebijakan Koridor Papua dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Kebijakan Master Plan Percepatan dan Perluasan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI), Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs), maupun Kebijakan Percepatan Pembangunan Provinsi Papua akan dipadukan dengan desain besar pembangunan Papua dalam payung RPJMD Tahun 2013-2018 dan RPJP Tahun 2013-2033.
Sekali lagi, setiap satu rupiah yang jatuh dan mengalir di atas Tanah ini wajib menghadirkan manfaat dan berkat untuk perubahan nasib rakyat Papua. Semoga pergumulan di dalam forum MUSRENBANG ini membawa hasil bermakna bagi kita semua.
Akhirnya, dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kasih, Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (MUSRENBANG) Provinsi Papua Tahun 2013 dengan RESMI SAYA NYATAKAN DIBUKA.

Sekian dan terima kasih.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Syalom,

GUBERNUR PAPUA


LUKAS ENEMBE, S.IP., MH.

Baca 682 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task