Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081298338027, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Jum'at, 01 Maret 2013 09:11

Bahasa-Bahasa Daerah di Papua Terancam Punah

Taksir item ini
(2 pilihan)

Pendokumentasian Penting  Dalam Menghindari Kepunahan

Terlihat para peserta sedang melakukan pelatihan pendukomentasian bahasa di Sekretariat P3W, Padang Bulan, Kamis (28/2) kemarin.JAYAPURA Guna menjaga kelestarian budaya-budaya  dan bahasa yang ada di Papua dan Papua Barat (Tanah Papua, red), maka Center Endangered Languages Documentation (CELD) Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat menggelar pelatihan di Sekretariat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita (P3W), Padang Bulan, Kamis (28/2) kemarin.\
Pendokumentasian bahasa daerah di Papua sudah  mulai dilakukan lembaga CELD- UNIPA Manokwari sejak 2009 lalu.  Tujuannya,  melestarikan bahasa dan penutur bahasa daerah Papua dari kepunahan,  termasuk degradasi  bahasa daerah yang kian terasa di Papua. Bahasa yang sudah mulai punah ini berdasarkan pengalaman di Papua, yang mana anak-anak muda yang hidup di Kota banyak yang tidak bisa berbicara bahasanya sendiri, sehingga CELD mempunyai niat untuk mendokumentasikan bahasa tersebut.
Direktur CELD-  UNIPA Manokwari,  Yusuf  Sawaki menyatakan,  CELD- UNIPA  sudah mulai melakukan pendokumentasian bahasa daerah papua diantaranya bahasa  Moi di kepulaian Yapen, bahasa iya di Kabupaten Fak fak,  dan saat ini CELD mulai dengan projet yang berhubungan dengan pendokumentasian ini,  yakni melakukan pendokumentasian bahasa daerah  di wilayah Pegunungan  Tengah Papua, kemudian pendokumentasiaan bahasa MOR di Nabire dan bahasa Wamesa di Teluk Wondama , Provinsi Papua Barat.
 Sehubungan dengan itu, CELD merasa perlu  melatih masyarakat lokal asli penutur bahasa dalam melakukan pendokumentasian bahasa daerahnya.


Yusuf  Sawaki mengatakan, pihaknya menyiapkan  masyarakat lokal penutur bahasa daerah Papua dimana dalam pelatihan ini masyarakat penutur bahasa dapat bekerja untuk mulai mendomengtasikan bahasa  mereka. Pelatihan ini sangat penting dilakukan, mengingat bahasa daerah dan penutur bahasa daerah melambangkan jati diri seseorang dan harga diri seseorang sehingga lokakarya pendokemntasian bahasa daerah ini lebih difokuskan bagi masyarakat penuturnya .
 “Masyarakat lokal yang dilatih ini akan disiapkan untuk melakukan pendomentasian, sebaliknya mereka juga bisa melatih masyarakat setempat lainnya yang tertarik dengan dunia ini,” ujarnya kepada  Wartawan.
Ia mengakui, pendokementasian bahasa daerah  langsung dari penuturnya, merupakan upaya melestarikan budaya Papua dari kepunahan, dimana bahasa daerah Papua merupakan satu kesatuan dari  bahasa bahasa yang ada di dunia. Data SIL  memperlihatkan, data bahasa bahasa seluruh dunia berjumlah sekitar 7000- ribuan bahasa. Dari Bahasa tersebut, konteks Indonesia yang saat ini memiliki sekitar tujuhratus lima puluhan hingga tujuhratus enampuluhan bahasa. Sementara konteks papua sendiri sekitar seratus enampuluhan bahasa. Bahasa di Papua kebanyakan penuturnya kurang dari dua ribu penutur, sementara dalam  ukuran UNESCO, duaribu penutur bahasa daerah papua itu menjukkan bahasa daerah papua masuk dalam katagori bahaya bahkan menuju kepunahan.
Karena bahasa Papua tak sama dengan bahasa Jawa yang penuturnya jutaan orang sementara bahasa bahasa daerah yang ada di papua ini penuturnya hanya  duaribuan dan masuk dalam katagori punah, ujanya.
 Meski belum dapat melihat sebab sebab kepunahannya, namun fakta penuranya memang sudah sangat minim. Lebih lanjut ia menjelaskan,   arus globalisasi masyarakat  yang hidup di perkotaan faktanya tak bisa lagi menuturkan bahasa daerahnya sendiri, degradasi ini semakin terasa.
Untuk itu Kami menyiapkan orang orang penutur bahasa setempat untuk melakukan pendokumentasian sebab pekerjaan ini akan menjadi sesuatu hal penting dimana kegunaan dari pendokumentasiaan ini akan nampak 20 – 50 bahkan 100 tahun kedepan.
Pdt. DR. Sigfrid Zollner, misionaris  Jerman Pertama di Yali  mengungkapkan, dirinya sudah mendokumentasikan bahasa  Yali yang diterbitkan dalam kamus bahasa Yali. Dari pendokumentasian bahasa Yali  diakui ada kata kata yang digunakan 50 tahun lalu, maknanya  sekarang justru berubah.
 Dari pendokumentasian bahasa Yali yang dilakukannya, lantas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, selain menyusun buku buku bacaan dalam bahasa Yali yang bisa dipakai untuk belajar membaca dari orang suku Yali. Sejak 13 tahun menjadi misionaris di wilayah suku Yali, Pendeta Zollner mengatakan, ia mulai melakukan perekaman dan menterjemahkan Alkitab kedalam Bahasa Yali yang diakuinya menjadi bahan belajar membaca kala itu.
Sementara itu seorang peserta Lokakarnya, Natan Pahabol, S.Pd mengatakan, lokakarya  pendokumentasian bahasa daerah ini  sangat besar manfaatnya untuk ke depan.
 “ Kami mendapatkan pemahaman, petunjuk dan pedoman bagaimana proses pendokumenatasian itu dilakukan terhadap bahasa daerah,”kata anggota oOkja Agama dari MRP ini.
Sebab lanjutnya,  Budaya bicara dan dengar ini dalam erah globalisasi ini menjadi ancaman bagi bahasa daerah. Dikatakan ancaman terhadap bahasa daerah  ini mendorong sehingga ada lokakarnya ini. “Dalam pendokumnetasian pelatihan tersebut. kami diajar bagaimana gunakan audio visual  dari lapangan, membuat kamus dan ceritera selanjutnya dimasukkan dalam sistim computer,”katanya kepada Bintang Papua.
DIkatakan sangat menarik sekali bagaimana proses itu dapat diterapkan di lapangan betul bermanfaat.
Dalam era reformasi ini, bahasa daerah terancam punah padahal bahasa Daerah adalah identitas atau paspwort bagi seseorang. “Kami kwatir bahwa kalau bahasa daerah di Papua ini  hilang maka orang Papua akan menjadi tamu di negarai ini. Untuk itu kini saatnya kita semua sadar dan komitmen melestarikan bahasa daerah dengan cara, harus menulis dan bicara di gereja melalui khotbah dengan bahasa daearh karena itu sangat berharga di Mata TUhan.
Sama halnya dengan bahasa daerah lisan dan tulis dianjurkan pada anak masa kini sangat besar manfaatnya. Ini adalah langkah alternative agar jangan bahasa Daerah ini mati tetapi harus hidup. (mir/ven/don/don/l03)

Baca 1252 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task