Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081344259201, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Rabu, 06 Maret 2013 07:04

TANTANGAN GURU KREATIF-INOVATIF MENYONGSONG KURIKULUM 2013

Ditulis oleh  Yudhi Setyo Palupi,ST
Taksir item ini
(1 Pilih)

Oleh: Yudhi Setyo Palupi,ST
(Widyaiswara LPMP Papua)

Yudhi Setyo Palupi,STPerkembangan kurikulum di Indonesia telah mengalami perubahan sebanyak sepuluh kali dan sekarang sudah akan diberlakukan kurikulum yang baru yaitu Kurikulum 2013. Perlunya pengembangan kurikulum 2013 mengacu pada UU No.20 Tahun 2003, Bagian Umum dan Penjelasan Pasal 35. Tampaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tidak akan surut dari tekad. Rencana memberlakukan kurikulum 2013 sudah bulat walaupun masih ramai yang mendebat. Beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh menegaskan kalau kurikulum itu akan diberlakukan bertahap pada awal tahun pelajaran baru, 2013/ 2014 nanti. Tinggal lima bulan lagi, berarti. Wakil Mendikbud, Musliar Kasim juga sudah mulai mensosialisaikan ke beberapa kabupaten di beberapa provinsi di Indonesia. Dengan  acara “Sosialisasi Kurikulum 2013” pada kunjungan kerja ini Wamendikbud bertujuan menjelaskan apa dan bagaimana kurikulum baru ini. Banyak kota berharap untuk mendapatkan informasi secara langsung akan tetapi tidak semua mendapatkan kunjungan.
Sampai saat ini sebagian besar guru, terutama di daerah-daerah belum juga memahami  esensi kurikulum yang katanya penyempurnaan dari kurikulum KTSP yang saat ini masih berlaku. Jika kurikulum 2013 benar-benar akan mengarahkan peserta didik untuk menjadi anak-anak yang kreatif, inovatif dan berkarakter, seperti selalu didengung-dengungkan Mendikbud di berbagai kesempatan maka inilah sesungguhnya tugas berat dan tugas mulia guru. Guru harus bersikap professional dan memikirkan strategi yang tepat untuk mewujudkan harapan itu. Tentu saja itu tidak akan mudah.

Sebagian informasi yang diterima guru saat ini belum merata keseluruh Indonesia mengenai pelaksanaan kurikulum 2013. Informasi mengenai kurikulum 2013 masih simpang siur mengenai pelaksanaan kurikulum baru ini nantinya sebagian besar perangkat pembelajaran yang selama ini harus dikerjakan guru, nanti tidak perlu lagi guru yang mengerjakannya. Seumpama menyusun silabus yang selama ini menjadi momok bagi guru yang cenderung malas, nanti sudah tidak perlu lagi disusun guru. Semuanya sudah dipersiapkan dari kementerian. Buku-buku ajar pun nantinya akan disiapkan Pemerintah. Sekolah-sekolah (baca: para guru) tinggal melaksanakannya saja.
Disini kekhawatiran akan muncul. Akankah model ’serba ada’ ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif sebagaimana target yang diharapkan oleh peserta didik? Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang kreatif dan inovatif justeru mesti dimulai dari dan oleh para guru yang kreatif dan inovatif juga? Dengan kurikulum KTSP yang menjadikan otonomi sekolah dan guru sebagai salah satu perinsip, terbukti tidak banyak lahir guru-guru kreatif dan inovatif. Padahal jelas kebebasan yang dianut KTSP sejatinya melahirkan guru-guru penuh ide dan bekerja keras untuk melahirkan berbagai kreasi demi pencapaian kurikulum. Lalu bagaimana dengan kurikulum yang serba disiapkan ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif? Tidakkah nantinya akan lahir guru-guru yang kian malas karena merasa sudah dipersiapkan segala-galanya?
Semoga saja tidak dan itu merupakan harapan pemerintah membantu guru-guru dalam mempersiapkan perangkat mengajar. Jangan sampai tujuan mulia kurikulum untuk melahirkan anak-anak kreatif-inovatif dengan karakter yang baik tidak dilaksanakan oleh guru-guru. Bagaimanapun, kita tetap berharap dan menanti lahirnya guru-guru kreatif dan inovatif untuk melaksanakan kurikulum baru ini guna memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, social, dan personal termasuk motivasi mengajar. Selama ini pemerintah melihat guru terfokus pada memenuhi kompetensi profesi dan focus pada ukuran kinerja PTK padahal seharusnya tidak demikian. Alasan pemerintah mengembangkan kurikulum sejatinya adalah memenuhi tatangan masa depan seperti globalisasi; masalah lingkungan hidup; kemajuan teknologi informasi; konvergensi ilmu dan teknologi; ekonomi berbasis pengetahuan; kebangkitan industri kreatif dan budaya; pergeseran kekuatan ekonomi dunia; pengaruh dan imbas teknosains; mutu, investasi, dan transformasi pada sektor pendidikan, hasil TIMSS dan PISA. Fenomena Negatif  yang sering muncul akhir-akhir ini dimasyarakat seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..), gejolak masyarakat (social unrest) menjadi suatu alasan pengembangan kurikulum. Untuk menjawab hal itu perlu rancangan kompetensi masa depan dengan kemampuan berkomunikasi; kemampuan berpikir jernih dan kritis; kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan; kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab; kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap; pandangan yang berbeda; kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal; memiliki minat luas dalam kehidupan; memiliki kesiapan untuk bekerja; memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya; memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan. Sedangkan persepsi masyarakat  terlanjur menitikberatkan pada aspek kognitif, sehingga beban siswa terlalu berat  dan kurang bermuatan karakter.(Kemendikbud,2012, Bahan Uji Publik Kurikulum 2013, Jakarta)
Guru yang profesional adalah kunci untuk melaksanakan pendidikan yang berkualitas di sekolah. Bagi guru, mengajar adalah sesuatu yang kompleks tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru ke siswa. Selain itu sebagai Guru Profesional juga dituntut semakin banyak menciptakan pembelajaran kreatif-inovatif supaya proses pembelajaran dikelas dapat terjadi perubahan tingkah laku dan mempunyai tujuan, yaitu diperolehnya hasil belajar yang maksimal pada masing-masing peserta didik, Perlu juga kreatifitas dan kepekaan guru agar mampu mengaplikasikan beberapa metode pembelajaran agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan berkualitas. Maka diharapkan nantinya guru semakin bersemangat dan termotivasi dalam menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran menyongsong Kurikulum 2013 terutama bagi guru didaerah-daerah yang penuh dengan keterbatasan untuk melayani masyarakat demi tercapainya tujuan Pendidikan Nasional.

Baca 1489 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task