Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081298338027, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Rabu, 09 Januari 2013 09:57

DISKUSI KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN AGAMA

Ditulis oleh  redaksi binpa
Taksir item ini
(0 pilihan)

Pernahkah kita merenung sejenak untuk melihat beberapa kejadian-kejadian yang mencoreng nama baik yang menimpa beberapa public figure di tanah air belakangan ini? Mereka yang seharusnya menjadi panutan, pemimpin dan suritauladan bagi rakyat kecil justru melakukan tindakan- tindakan yang kurang terpuji. Tindakan tindakan tersebut diantaranya adalah KKN, tindakan asusila dan kekerasan. Mereka seakan akan lupa bahwa ada yang mengawasi setiap gerak langkah yang dilakukan oleh manusia, baik itu tindakan terpuji ataupun tercela. Lebih celakanya lagi, mungkin mereka mengabaikan Sang Pengawas Manusia. Mereka jadikan agama sebagai kedok saja agar mereka lebih terlihat berwibawa di hadapan umum.
Beberapa contoh tindakan yang kurang terpuji yang dilakukan oleh beberapa public figure di tanah air merupakan cermin betapa merosotnya nilai moral dan nilai agama di tanah air. Tindakan tindakan yang kurang bermartabat sering dilakukan hanya untuk memenuhi ambisi pribadi. Agama tidak lagi dijadikan pedoman untuk mengarungi samudra kehidupan ini. Agama sejatinya memiliki peran yang  amat penting dalam kehidupan umat manusia.  Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermatabat. Menyadari betapa pentingnya peran  agama  bagi kehidupan umat manusia maka Internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan,  yang  ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan  di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Menyadari bahwa pendidikan Agama memanglah sangat penting, sudah sewajarnyalah bila diperlukan upaya penanaman pendidikan agama sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika. Budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual  tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntutan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti,  etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Pendidikan Agama Islam, saat ini kurang memperhatikan diri peserta didik disamping itu juga kurangnya jam pelajaran yang diberikan pada siswa. Sehingga peserta didik kurang memahami apa yang telah disampaikan oleh pendidik.  Demikian pula dengan pendidik, mereka juga kurang efektif dalam menggunakan metode maupun pendekatan yang diterapkan kepada peserta didik. Hal ini menambah daftar negative tentang pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Untuk meningkatkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam maka perlu dirancang suatu pendekatan dan metode yang tepat agar Pendidikan Agama Islam dapat berhasil   dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk wataK serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, guru memiliki peranan yang sangat penting.
Karena kedudukan guru sebagai tenaga professional, guru dituntut mempunyai kompetensi meliputi kompetensi pedagogik,  kompetensi kepribadian,  kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Dalam penjelasannya yang dimaksud kompetensi pedagogic adalah kemampuan guru mengelola pembelajaran peserta didik, kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepriadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta lain. Yang dimaksud kompetensi professional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam dan yang dimaksud dengan kompetensi soaiala dalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Proses belajar dipandang sebagai pemberian makna oleh siswa pada pengalamannya, sedangkan proses mengajar bukan hanya mengarahkan siswa untuk bisa membangun sendiri pengetahuan melainkan juga turut berpartisipasi dengan siswa untuk membentuk pengetahuan baru pada siswa, membuat makna, mencari kejelasan dan bersikap kritis terhadap hal-hal yang telah dipelajari melalui proyek. Peran guru dalam pembelajaran ini adalah mengarahkan siswa bisa belajar pada belajarnya sendiri. Model pembelajaran tersebut memberikan peluang terjadinya proses aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan memanfaatkan sumber belajar secara beragam.
Model  ini juga memberikan peluang kepada siswa untuk berkolaborasi dengan teman bahkan dengan guru-guru dan mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Siswa tidak akan begitu saja menerima pengetahuan dari guru kemudian menyimpannya di dalam kepalanya, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana siswa dapat memecahkan permasalahan dan mengembangkan produk baru untuk dikaitkan dengan pengetahuan yang didapat dari lingkungan sekitarnya kemudian membangun pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan menurut alam pemikiran siswa itu sendiri. Siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka.
Dalam proses pembelajaran, siswa mampu membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan dikelas, siswa yang menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Dan inilah yang diterapkan dalam pembelajaran konstruktivistik melalui metode diskusi kelompok. Siswa senang dengan cara guru menerangkan pelajaran mata pelajaran tersebut, dan siswa senang belajar dengan diskusi karena lebih mudah memaham imateri pelajaran,  nilai siswa mengalami peningkatan pada indicator mengemukakan pendapat, memberi saran, melengkapi jawaban, menyanggah dan mendukung jawaban disertai alasan.  Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa minat dan kemampuan berfikir kritis analitis meningkat dalam mempelajari suatu materii dengan diterapkannya metodediskusi.
Metode diskusi kelompok juga dapat diterapkan padapelajaran Pendidikan Agama Islam yang konon Pendidikan Agama Islam adalah landasan bagI generasi muda dalam menghadapi suatu hal. Diskusi kelompok dapat membantu siswa dalam mengumpulkan informasi-informasi yang akan di wujudkan dalam pikiran setiap individu, karena setiap individu memiliki pengetahuan awal yang berbeda-beda. Penerapan metode ini pada pelajaran Pendidikan Agama Islam pada hakekatnya sama dengan pelajaran-pelajaran yang lain pada umumnya. Kunci pokok ada pada kemampuan guru untuk mengemas materi menjadi semenarik mungkin sehingga menarik minat siswa untuk mendiskusikannya. Selanjutnya, guru juga harus mampu menjaga atmosfer diskus isehingga diskusi tidak terkesan kaku dan monoton.
Semoga dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam menguasai Pendidikan Agama Islam, mampu menjadikan anak didik menjadi manusia yang berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama.

Baca 1189 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task