Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081298338027, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Selasa, 12 Februari 2013 05:36

Strategi Menanamkan Pendidikan Karakter

Ditulis oleh  Dra. Sumarlik
Taksir item ini
(0 pilihan)

Oleh : Dra. Sumarlik
Guru SMA Negeri 1 Jayapura

Sejak Indonesia merdeka, memang telah diupayakan berbagai cara untuk mendidik murid-murid agar ber-karakter. Guru berupaya mendidik murid agar mempunyai karakter yang baik. Guru telah melakukan upaya perbaikan karakter murid melalui konsep character building, melalui Pendidikan Pancasila, melalui Pedoman Pendidikan dan Pengamalan Pancasila. Tidak hanya itu, tetapi masih ditambah dengan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dan Pendidikan Budi Pekerti. Bahkan di upayakan juga berbagai upacara peringatan, seperti upacara bendera setiap hari senin pagi, upacara bendera tanggal 17 setiap bulan, upacara memperingati hari kemerdekaan, peringatan hari kartini, sumpah pemuda, hari pahlawan dan banyak lagi. Tujuannya adalah agar karakter bangsa menjadi baik.
Namun demikian ternyata sampai saat ini berbagai tindak kejahatan terjadi dimana-mana. Karakter kejujuran, pemaaf,  keberanian, ketekunan, disiplin, kerja keras, dll  belum menjadi karakter bangsa. Lulusan sekolah masih relatif belum sepenuhnya memiliki karakter yang baik. Ketika dewasa banyak diantara mereka menjadi pemborong yang tidak jujur. Mutu pekerjaan dikurangi agar dapat keuntungan yang melimpah. Dengan karakter yang tidak baik itu maka ada jalan aspal yang cepat rusak. Ada bangunan sekolah yang tidak sesuai dengan standar. Di pasar banyak ketidak jujuran juga. Ada pedagang yang mengurangi sukatan dan timbangan. Ada penjual buah yang memtiknya sebelum cukup matang lalu di paksakan agar cepat masak dengan menggunakan karbitan. Ada orang yang menjual honda yang  menipu bahwa hoda-nya itu tidak kena tsunami. Di kantor banyak terjadi pungutan liar. Ada issu bahwa 10% dari dana proyek diberikan kepada pimpro secara cuma-cuma agar ia mendapat proyek tersebut. Di sekolah banyak guru yang masuk kelas tanpa mempersiapkan bahan ajar-nya dengan sungguh-sungguh. Ada Kepala Sekolah yang tidak mau kerja keras memajukan sekolah yang dipimpin-nya. Sangat banyak ketidak jujuran terjadi dimana-mana.

Karakter jujur, berani karena benar, pemaaf, disiplin, kerja keras dll masih sangat langka. Oleh karena itu maka Kemendiknas kini melancarkan Pendidikan Karakter. Tentu saja hal ini tidak mudah ditengah arus globalisasi yang merusak karakter murid.
Untuk memperbaiki semua kerusakan karakter seperti tersebut diatas itu diperlukan saat pendidikan yang tepat dan strategi yang jitu untuk membentuk karakter murid. Kemungkinan besar saat yang tepat adalah membentuk karakter pada usia dini. Yaitu ketika karakter belum terbentuk, maka saat itu lah guru berusaha menanam nilai-nilai kejujuran, keberanian, kepemaafan, ketekunan, disiplin, kerja keras dll. Ketika usia dini, semua dapat dibentuk dengan lebih mudah.
Disamping saat yang tepat membentuk karakter, diperlukan juga strategi yang tepat. Dan strategi yang tepat antara lain adalah melalui peniruan terhadap tokoh. Peniruan terhadap tingkahlaku tokoh panutan merupakan cara yang efektif untuk belajar karakter. Menurut Lutan (1988:99) bahwa : “peniruan merupakan cara yang terbaik bagi seseorang untuk belajar”. Lalu timbul pertanyaan, yaitu karakter tokoh yang bagaimana harus dijadikan panutan untuk ditiru oleh anak ?. Dalam tulisan ini, dikemukakan tokoh-tokoh berkarakter Islami yang tertera dalam Al Quran lah yang harus menjadi panutan utuk ditiru, diteladani, diikuti oleh murid. Oleh karena itu maka guru harus sering mengangkat ceritera tokoh-tokoh yang ada dalam Al Quran. Bagaimana keberanian Nabi Musa, pemaafnya Nabi Yusuf, jujurnya Nabi Saleh dan Nabi Suib, sabarnya Nabi Musa dalam menuntut ilmu dan lain-lain.
Disamping menceriterakan tokoh-tokoh yang berkarakter baik, juga murid memerlukan “ancor”. Yaitu sebuah cara agar karakter tokoh-tokoh dalam Al Quran itu menetap dalam struktur kepribadian anak. “Ancor” adalah jangkar atau tambatan, yang akan mengikat atau menambat perahu atau kapal laut agar tidak terbawa arus. Arus informasi yang merusak karakter  di era globalisasi semakin deras. Arus budaya pop Eropa yang sangat merusak  tidak mungkin dibendung lagi. Betapa bahaya-nya budaya Barat bagi ummat anak, digambarkan oleh Tariq Ramadhan :”siapapun yg hidup sehari-hari di Eropa akan merasakan tantangan hiburan Eropa. Sesungguhnya orang dihadapkan pada dua pilihan…untuk melindungi dirinya dari semua pengaruh keji, orang menutup diri dari semua akses ke budaya populer Eropa karena sebahagian besar pertimbangan moral telah tersingkirkan dari bidang ini….tetapi ini td masuk akal …generasi muda, dg  rintangan apapun yg dipasang didepan-nya akan tetap terpengaruh oleh kultur Eropa, di sekolah-sekolah atau melalui teman-teman di sekolah (Tariq Ramadhan.2002:219).
Kuatnya arus informasi dan budaya non Islami itu harus di tangani dengan jalan membuat “ancor”. Yaitu sesuatu yang dapat mengikat karakter baik yang telah ditanamkan melalui ceritera tokoh-tokoh dalam Al Quran agar tidak terbawa arus ceritera, informasi dan budaya yang merusak. “Ancor” ini dapat berupa ayat-ayat Al Quran tentang tokoh yang berkarakter yang dihafalkan oleh murid. Dengan menghafalkan ayat yang tersangkut dengan kejujuran Nabi Saleh, maka memori anak tentang kejujuran akan permanen. Ketika anak menghafal “wa auful kaila wal mizana bil qisth” atau mendengar suara pengajian di pengeras suara di Mesjid, maka memori anak akan memunculkan rangkaian kisah Nabi Saleh dan dakwahnya tentang harus jujur dalam timbangan dan sukatan. Ketika anak menghafal “fashabrun jamill”, maka serta merta kenangan anak akan terpaut pada kisah Nabi Yakub yang selalu bersabar walaupun matanya telah rabun akibat menangis sedih tentang nasib anaknya Yusuf. Ketika anak menghafal “khuzha fala takhaf”, murid akan teringat ceritera gurunya tentang keberanian Nabi Musa. Dengan demikian anak akan jujur, sabar dan berani karena sering-sering memunculkan memori tentang kejujuran, kesabaran dan keberanian para tokoh idola yang mereka dengar dari gurunya. Bukan saja ketika menghafal ayat-ayat Al Quran tetapi juga ketika mendengar ada orang lain mengaji atau mendengar di pengeras suara di mesjid-mesjid setiap menjelang shalat magrib dan subuh.
Dengan strategi semacam ini, maka kekhawatiran terhadap lupanya anak akan karakter mulia itu akan dapat ditangani dengan baik.

Baca 1308 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task