Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081344259201, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Selasa, 19 Maret 2013 06:49

Masyarakat Adat Wamena/Gunung yang Dulu, Kini, dan Esok

Ditulis oleh  Ponto Yelipele
Taksir item ini
(4 pilihan)

Sebuah Refleksi Penalaran

Oleh : Ponto Yelipele

Orang wamena lagi dan orang wamena lagi (dewasa ini lebih populer dengan sebutan “orang gunung”), ungkapan semacam ini telah melekat dan menjadi buah bibir kebanyakan orang yang berdomisili di Tanah Papua pada umumnya dan lebih khusus di Jayapura sebagai pusat konsentrasi roda pemerintahan Provinsi Papua. Justifikasi ini terus dilekatkan dengan sederet aksi kriminal maupun sejumlah kasus yang juga sering di kaitkan dengan isu gerakan Papua merdeka yang menurut pengamatan penulis di awali pasca reformasi tahun 1998/1999 hingga dewasa ini. Dampak langsungnya, secara faktual dapat kita jumpai kenyataan dimaksud dalam interaksi sehari-hari di Jayapura, semisal para pemilik rumah kontrakan/kost akan berpikir panjang sebelum memutuskan menerima atau menolak jika yang datang mencari atau menawar adalah orang wamena/gunung dan yang lebih ekstrim akan berkata tidak ada yang kosong, sudah ada yang kontrak/bayar dimuka tapi orangnya belum masuk dan seterusnya.

 Terbelakang, primitif, bodok, dan berbagai kata yang sinonim seiring dan atau identik dengan orang Wamena/orang gunung dalam dinamika ini, walaupun dewasa ini banyak dari komunitas ini yang tampil sebagai pemimpin eksekutif maupun legislatif di Provinsi Papua yang secara kuantitatif cukup signifikan, namun tidak serta merta menghilangkan cap yang sudah ditempelkan. Mayoritas orang tetap sinis terhadap orang wamena/orang gunung, bahwa kepemimpinan yang ada adalah kesempatan (euforia otsus) dan bukan karena kualitas, kenyataan yang demikian diperkuat lagi dengan kinerja dan akuntabilitas dalam pelayanan pemerintahan yang rata-rata dibawah standar minimal. Penulis sering ditanya oleh orang-orang yang berasal dari luar Papua, “kenapa setiap ada peristiwa kriminal selalu orang wamena/orang gunung dan setiap ada demo apapun orang wamena juga yang paling banyak...?”
Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan sebagaimana diatas, karena pertanyaan yang demikian adalah akumulasi dari sekian banyak fakta aktual yang dikonsepsikan oleh setiap orang. Penulis tergelitik dengan pandangan dan pertanyaan semacam itu dan berasumsi bahwa kebanyakan orang melihat fakta-fakta dimaksud secara “hitam putih” dan  dari sisi negatifnya saja, sejauh ini belum ada upaya serius dan kontruktif dalam mengatasi gejolak sosial yang ada. Penulis ingin mengetengahkan sepintas tentang karakteristik dasar budaya orang Wamena/gunung yang benang merahnya sebagaimana tampak dalam dianamika sosial yang antara harapan dan kenyataan dimaksud, dengan asumsi bahwa masyarakat adat Papua umunya dan lebih khusus wamena/ pegunungan tengah sedang dalam masa transisi, pencarian identitas diri dalam arus globalisasi yang keras dan dalam pada itu kita mesti merekonstruksi cara pandang dan pola pendekatan yang tepat dalam menghadapi dinamika sosial dimaksud.

Pertama, salah satu filsafat hidup orang wamena/gunung, secara simbolik bisa dilihat dan dikenali dari bentuk rumah (honai) yang “bulat”. Kepala suku dan sesepuh adat yang dihormati dalam klan dan suku tidak memiliki tempat khusus dan atau istimewa untuk sekedar tidur sekalipun, semua orang saling berbagi tempat untuk tidur dalam satu honai. Koteka, pakaian dan apapun yang melekat di badan harus ditanggalkan lalu naik ke loteng untuk tidur berjejer melingkar mengikuti bentuk honai dengan mengarahkan semua kaki pada tiang pancang ditengah honai. Seseorang yang dalam perjalanan jauh dan kemalaman, entah keluarga, kerabat dekat/jauh, tak dikenal, dan kadang musuh perang suku sekalipun bila mengetuk pintu untuk menumpang tidur dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya, selalu diterima dengan suka cita dan merupakan kehormatan bagi tuan rumah, sehingga makanan yang disimpan akan disediakan untuk memuliakan tamunya.

Kedua, tempat bikin api dan bakar Ubi (wulikin) didalam honai maupun uma (dapur umum yang juga tempat tinggal wanita) “bentuknya bulat”. Semua orang didalam rumah (honai dan uma) semuanya duduk melingkar menghadap wulikin sambil menghangatkan tubuh, apapaun dan berapapun ubi yang di bakar untuk semua yang ada pada saat itu dan bila ada lebihnya akan disimpan untuk anak dan sebagai bekal siang hari di kebun, namun bila jumlahnya terbatas, anak-anak, wanita, dan tamu yang diutamakan. Tidak ada makanan/ubi yang disimpan khusus untuk seorang Bapak/kepala keluarga, kalaupun ada yang disimpan untuk kepala keluarga dan atau anggota keluarga dalam suatu rumah, lalu ada tamu yang datang langsung diberikan. Kepala keluarga akan marah besar kalau tamu yang datang tidak dimuliakan walaupun ia harus menahan lapar. Sulit sekali menemukan orang yang kikir dan atau mementingkan diri karena kalaupun ada oknum yang seperti itu akan menjadi buah bibir dalam pergaulan masyarakat adat setempat karena merupakan sifat yang bertentangan dengan nilai-nilai umum yang di junjung tinggi dalam kalangan setempat.
Ketiga, kolam tempat masak (hase), yang lebih dikenal dengan sebutan bakar batu “yang juga bentuknya bulat”. Setiap wanita akan menggali ubi di kebunnya masing-masing, cuci di kali, lalu dimasak secara bersama dalam satu kolam. Jika ada wanita yang ubi miliknya kecil dan sedikit, wanita yang memiliki ubi besar dan lebih banyak akan membagikannya kepada wanita yang ubinya kecil-kecil dan sedikit tersebut. Setiap wanita mengenali ubinya walaupun dimasak bercampur dengan ubi milik wanita lain yang dimasak dalam satu kolam tersebut sehingga pada saat buka mereka akan mengambil ubinya masing-masing. Semua yang dimasak untuk makan bersama, tidak boleh disembunyikan dan memang tidak ada peluang untuk itu, kecuali ada lebihnya yang diperuntukan bagi anggota keluarga yang tidak di tempat pada saat makan bersama itu dan lazimnya yang disimpan adalah untuk bekal anak-anak. Seseorang yang membawa makanan lalu berpapasan dengan orang yang dalam perjalanan, entah dikenal ataupun tidak, makanan yang dibawah akan diberikan. Orang Wamena atau gununng meyakini bahwa, jika melewatkan kesempatan mengasihi terhadap orang yang membutuhkan maka kemurahan dan limpahan rejeki akan menyertai dalam setiap usaha dan sebaliknya bila bersikap kikir maka kemalangan dan atau musibah akan menyertai pula.

Keempat, Wadah atau tempat air minum (isuak) yang sama sebagai tempat minumn untuk semua orang, tidak ada wadah minum yang khusus untuk seorang kepala suku, kepala keluarga, dan juga tamu sekalipun. Tak peduli yang bermulut sumbing, bau, berliur, dan apapun. Ketika seseorang merasa jijik dengan bekas orang, maka ia dianggap menggingkari pertalian darah dan atau persaudaraan. Terkadang, untuk menanggung sakit anggota keluarga atau saudara yang sakit akut, saudaranya yang lain akan memakan dan meminum bekas orang yang sakit dengan harapan, ia lekas sembuh.

Kelima, Masyarakat adat wilayah pegunungan tengah memiliki kehidupan spritual, yang sangat berarti bagi mereka. Berbagai tempat dianggap  suci dan memiliki cerita tersendiri yang berhubungan dengan asal-usul klan atau suku dan kesemuanya berpusat pada satu zat/wujud abstrak, adil/pengadil yang khusus. Ritual untuk menghormati semua aktifitas dan tempat-tempat yang dianggap suci dilakukan dengan sebuah simbol yang diletakan di Honai adat yang dinamakan Hareken (Batu Hitam).

Keenam, Ciri utama masyarakat adat Wamena/gunung ialah dengan membentuk kelompok otonomi berdasarkan pertalian darah dan keluarga, orang Wamena/gunung di satukan oleh keturunan nenek moyang yang nyata maupun bersifat mitos. Kelompok-kelompok ini kemudian menggabungkan diri dalam perkumpulan yang lebih besar (konfederasi perang dan pesta babi). Sebagaimana istilah umum yang di pakai dewasa ini, disini penulis sebut kelompok kecil “klan” dan kelompok besar “suku”. Menanamkan kesetiaan pada kaum dan pada semua sekutunya adalah penting, hanya suku yang dapat menjamin keamanan anggotanya, tetapi itu berarti tak ada ruang bagi individualisme seperti yang kita kenal sekarang, dan tak ada hak-hak serta tanggungjawab yang dihubungkan dengan itu. Semuanya merupakan subordinasi dari kelompok kepentingan. Untuk menanamkan semangat komunal ini masyarakat adat mengembangkan ideologi yang disebut “Ap Kany” huruf ny di baca nya tanpa huruf a, (pria sejati/pemberani).
Ap Kany berarti keberanian dalam berperang, kesabaran dan ketahanan dalam penderitaan dan pengabdian pada tugas yang sopan untuk membalas kesalahan yang pernah dilakukan pada suku, melindungi para anggota yang lemah dan menghadapi yang kuat. Setiap suku memiliki kebanggaan akan Ap Kany mereka masing-masing, yang diyakini diwariskan secara turun-temurun. Untuk melestarikan Ap Kany, kelompok setiap anggota harus siap membela rekan sesukunya dan mematuhi pemimpinnya tanpa syarat. Diluar suku, kepatuhan berakhir dan tak ada tanda adanya hukum alam yang universal pada perkembangan masyarakat adat pegunungan tengah ditingkat ini.
Masyarakat adat pegunungan tengah tidak memiliki gambaran tentang kehidupan sesudah mati, dan orang tidak memiliki nasib sendiri, atau nasib abadi. Satu-satunya yang abadi yang dapat di capai pria dan wanita adalah dalam suku mereka dan berlangsungnya spirit mereka. Masing-masing memilki tanggungjawab untuk menanamkan Ap Kany dan menjamin kelangsungan hidup suku mereka, maka suku merewat dirinya sendiri. Kepemimpinan Kepala suku termasuk merawat anggota suku yang lemah dan memberikan apapun yang dimilikinya. Kemurahan hati merupakan nilai yang penting, seorang kepala suku dapat mendemonstrasikan kekuatan dan keyakinannya (yang berarti kekuatan sukunya) melalui keroyalan dan kedermawanannya pada anggota suku dan para sekutu dikelompok suku yang lain. Keramahan dan kemurahan hati masih menjadi nilai luhur masyarakat adat di wilayah pegunungan tengah. Tentu saja ini memiliki nilai pragmatis. Seseorang/suatu keluarga, klan, dan suku yang kaya (banyak babi dan lainnya) sekarang dapat dengan mudah menjadi miskin besok, dan bila anda kikir atas keberuntungan anda, siapa yang akan bantu pada saat anda memerlukan? Namun kedermawanan juga membantu masyarakat adat gunung bangkit mengatasi perjuangan eksistensinya.
Komunitas masyarakat adat wilayah pegunungan tengah mengajarkan arti pentingnya perbedaan, persaudaraan, dan kesetaraan, karena tak ada ruang bagi elit yang istimewa dalam sistem kesukuan. Tak ada aristokrasi maupun pewarisan tahta. Kepala suku tidak memberikan posisinya pada anak lelakinya karena suku memerlukan orang terbaik, tak perduli keturunan dari siapa dia. Egalitarianisme yang dalam dan kuat ini menjadi ciri semangat masyarakat adat wilayah pegunungan tengah yang merantau dimanapun dan dengan mudah mengidentifikasi diri menjadi bagian dari kelompok-kelompok perjuangan.
Puncak dari solidaritas yang sangat kental dalam suku selalu di gambarkan dalam syair-syair lagu yang memesona dan memompa semangat, syair-syair yang dilantunkan dalam meratapi suatu musibah yang akan membuat setiap air mata tak terbendung. Syair-syair yang menggambarkan peperangan dan keberhasilan suku dan membantu para anggota keluarga dan juga suku untuk menghargai kualitas istimewa Ap Kany. Syair-syair dimaksud tidak tertulis dan tidak ada batasan mengenai siapa yang boleh dan tidak dibolehkan untuk mengarang/menyanyikan. Semua syair sejalan dengan peristiwa, konteks dan waktu. Setiap suku terdapat orang-orang yang bisa menyembuhkan penyakit, ada pula orang yang bisa memberi petunjuk pada orang yang kehilangan. Tidak tertulis, tetapi organisasi klan dan suku sangat rapi dan dijunjung tinggi oleh setiap anggota. Dalam konteks ini, masyarakat adat wilayah pegunungan tengah yang merasa paling bingung (disorientasi) adalah mereka yang telah hidup mapan. Masyarakat adat yang berimigrasi ke pusat-pusat kota dan menetap disana berdampingan dengan suku-suku lainnya. Mereka berhasil dalam pendidikan, namun sistem kesukuan tidak dapat berjalan ketika harus hidup dengan orang lain secara berdekatan. Masyarakat adat yang di kampung-kampung pun mengalami kebingungan karena mereka juga menemukan bahwa ideologi lama ternyata tidak membekali mereka untuk hidup di kota.

Ketujuh, Dewasa ini, dimana uang mulai mendapatkan nilai yang nyaris agamis, namun kapitalisme agresif tidak sesuai dengan etika kesukuan komunal pada masyarakat adat wilayah pegunungan tengah. Kapitalisme secara alamiah mendorong tumbuhnya keserakahan dan individualisme. Berbagai klan terlibat dalam kompetisi yang tajam. Masyarakat adat tidak lagi membagi kekayaan mereka secara merata sebagaimana etika suku lama, setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki kekayaan untuk dirinya sendiri, mereka mengeksploitasi kemiskinan dan ketidakberdayaan kaumnya sendiri dan tidak merawat anggota-anggota yang lebih miskin dan lemah sebagaimana etos lama yang mengharuskan mereka. Peradaban kekinian tidak berpihak pada masyarakat adat wilayah pegunungan tengah, mereka merasa kurang beruntung dan tersesat.
Kenyataan bahwa, sangat sedikit dari kaum imigran yang menaruh emphati, dan adapun itu bersifat semu, mereka datang dengan pengetahuan tentang masyarakat adat Papua yang sangat minim dan bahkan buta. Terlihat bahwa kaum imigran dengan ego kultural asalnya sehingga kata-kata dan tindakan mereka adalah kesewenang-wenangan dengan perasaan superior di satu pihak dan masyarakat adat menempatkan diri sebagai yang inferior. Tanpa ada ruang dialog untuk memberikan tantangan yang tidak menghancurkan masa lalu, tanpa ruang kebijaksanaan untuk membangun di atas tradisi masyarakat adat Papua.
Kaum imigran tidak membiarkan masyarakat adat melakukan sesuatu dengan cara dan atau daya yang ada pada mereka sendiri. Sebaliknya, seperti yang tampak, kaum imigran meminta masyarakat adat Papua memikirkan dan juga mempraktekan nilai-nilai dan kebiasaa-kebiasaan yang mereka bawah (pendekatan anti realitas). Jika mereka terus ditekan demikian, masyarakat adat telah dan akan kehilangan posisi nyatanya dan atau eksistensinya di dunia. Benang merah dari kesemuanya adalah sebagian besar masyarakat adat belum bebas dari penyakit buta huruf hingga hari ini tentunya.
Tulisan ini saya akhiri dengan pendapat, Muhammad A. Shomali, 2005 : 275) yang mengatakan bahwa, “Adat istiadat adalah kebiasaan yang tidak merugikan (misalkan pergi ke kebun jam 6 pagi), sedangkan moral adalah perlakuan terhadap orang lain (misalkan memberikan makanan kepada tamu terlebih dahulu)”.
Penulis adalah pemerhati masalah perubahan sosial dan Mutu Pendidikan.

Baca 11079 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task