Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081298338027, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Selasa, 26 Maret 2013 06:43

Tekan Angka Kematian Ibu Anak, BKKBN Gelar Program Akselerasi

Taksir item ini
(0 pilihan)

JAYAPURA - Akselerasi Program Kelurga Berencana  2013  akan lebih difokuskan pada meningkatan derajat kesehatan ibu dan anak sesuai target  MDGS, yakni menurunkan angka kematian ibu dan anak menjadi 2,1 pada  tahun 2015.
“ Upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak  menjadi 2,1 perlu  dimplemetansikan bersama  Program Keluarga Berencana, dengan demikian yang harus  terus menerus dilakukan adalah sosialisasi pada masyarakat luas tentang pentingnya Keluarga Berencana, pentingnya mengatur jarak kehamilan. Sosialisasi yang tepat sebaiknya di tempat tempat pelayanan klinik swasta maupun  di klinik pemerintah,” ujar Kepala Bidang BKKBN Perwakilan  Provinsi Papua, Charles Brabar, Senin (25/3).
Dikatakan, meningkatnya angka kematian ibu dan anak dan tekanan dari pemerintah untuk lebih mengiatkan program KB melalui promosi dan sosialisasi pada masyarakat, merupakan tantangan  buat kita sebagai negara berkembang untuk mencapai target MDGS tersebut.
Perwakilan BKKBN Provinsi Papua, saat ini tengah gencar menjalankan program KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi).

“KIE sangat penting  disosialisasikan ke masyarakat agar masyarakat tahu pentingnya kesehatan ibu dan anak, pentingnya menejaga jarak kelahiran,” ujarnya.
Data  survei demografi  kesehatan Indonesia 2012 memperlihatkan, Indonesia mengalami kemerosotan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan maupun menekan angka kematian ibu dan anak.
Yang terjadi kematian ibu dan anak justru  meningkat. Dalam kontrasetive prevalence, Papua justru mengalami peningkatan sejak 2007 dan  angka ini meningkat di tahun 2012.
Sementara angka kelahiran terus meningkat  menjadi 37,2 persen. Artinya jumlah ini harus diantisipasi dengan program KB, mengingat total kelahiran di Papua untuk tahun 2007 sebesar 2,8, dan sekarang justru meningkat pada 2012 menjadi 29,7 persen.
Jumlah kelahiran terbanyak di Papua, sesuai hasil survei yang dilakukan BPS adalah oleh para migran.
“Hal ini  sebatas agregat statistik. Agregat statistik sesuai Survei Demografi  Indonesia  telah memperlihatkan tidak terjadinya keharmonisan antara program KB dan angka kelahiran yang tinggi,” terangnya.
Ia mengakui, terjadi salah penafsiran terhadap program kelurga berencana  selama ini. Sebab kelahiran terus terjadi, sementara angka kematian ibu dan anak akibat melahirkan juga meningkat dibarengi jumlah aseptor KB aktif dan tidak aktif secara data juga berubah setiap saat, bahkan sudah tidak terkontrol.
Meski program akselerasi terus dijalankan, diakuinya  dampak migrasi penduduk semakin banyak, ditambah mobilisasi penduduk dari luar juga tak terkontrol.
Upaya-upaya pengendalian kelahiran tetap akan dilakukan dengan program akselerasi, BKKBN akan menjalankan program akselerasi KB ini dengan semua lembaga mitra termasuk lembaga keagaam dan kemasyarakatan. (ven/aj/lo2)

Baca 615 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task