Jalan Raya Kotaraja Telp. (0967) 581614, 081298338027, Pemasaran/langganan:   081387520442, Hunting: 08124870241, email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Jum'at, 01 Februari 2013 07:53

LINGKUNGAN BERMANFAAT SEBAGAI SUMBER BELAJAR SISWA DALAM BIDANG STUDY BAHASA INDONESIA

Ditulis oleh  Diana Lumban Gaol, S. Pd
Taksir item ini
(0 pilihan)

Oleh:  Diana Lumban Gaol, S. Pd
(Guru SDN. INPRES 6.88 Perumnas 2 Yabansai)

Seiring dengan perubahan paradigma pendidikan dari “Teacher Center” ke “Student Center”, maka fungsi guru juga berubah, tidak lagi sebagai pusat sumber belajar bagi siswa tetapi lebih kearah sebagai fasilitator yang memfasilitasi sebagai hal yang diperlukan siswa untuk belajar. Hal yang penting lainnya adalah bagaimana guru dapat menciptakan suasana belajar yang membangun dan meningkatkan inpuls kreativitas siswa.
Salah satu masalah dalam pendidikan Bahasa Indonesia (berpuisi) dewasa ini khususnya di SDN Inpres 6.88 Perumnas 2 Yabansai adalah kurangnya pemakaian sumber belajar untuk mendukung suatu kegiatan belajar mengajar. Biasanya sumber belajar selalu dikaitkan dengan ruang kelas yang kaku, sehingga ruang kelas kadang-kadang menjadi sandungan guru untuk menciptakan iklim belajar yang ideal. Akibatnya siswa hanya dijejali dengan belajar berpuisi tanpa menemukan makna puisi mendalam yang membuat mereka menjadi jenuh dan tidak tertarik terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia khususnya pelajaran berpuisi menjelaskan bahwa, penyair adalah seorang yang membukakan rahasia kehidupannya  kepada orang lain. Sesuatu yang bersifat paradoksal; sementara manusia pada umumnya merahasiakan kehidupannya agar tidak diketahui oleh orang lain, tidak demikian dengan halnya seorang penyair. Lewat puisi-puisinya penyair membukakan “pintu-pintu” jiwa kehidupannya bagi orang lain. Karenanya membaca puisi dengan baik dan mengahyati maknanya serta berada pada tempat yang cocok mengajak pembaca akan selalu menjumpai dirinya lewat puisi yang disampaikan oleh penyair. Pembacapun akan menghayati makna atau pesan puisi yang disampaikan oleh penyair.
Contoh puisi yang dibacakan pada belajar lewat lingkungan sebagai sumber belajar adalah, puisi karya Sultan Takdir Alisjahbana, Tonggak 1, hal. 64-65 dengan judul ANGIN.

Angin
Angin,
Kata orang engkau merenggang,
Bila menderu di pohon kayu
Selalu mengembara di mulia buana.

Aku tahu mereka tak tahu
Mengapa sanak selalu bergerak
Selalu gelisah selalu pindah
Selalu dikejar selalu mengejar.

Ah, angin,
Tiadakan tahu mereka segala,
Girang gerak, suka mengembara
Kakinya berat tangannya sendat
Hatinya lumpuh angannya lesu.
Pusi Angin ini mengajak pembaca untuk menghayati dan menyaksikan secara langsung dimana, tiupan anging spoi-spoi di alam bebas hingga membuat ranting-ranting pohon bergerak kian kemari. Di samping mempelajari pengetahuan lingkungan tentang angin dalam puisi itu ada pesan dibalik puisi untuk di hayati atau direnungkan.
Penggunaan lingkungan sebabai sumber belajar ini membuat siswa lebih gairah dalam belajar dan memahaminya secara mendalam. Sangat efektif dan bijaksana jika pelajaran yang berkaitan dengan lingkungan, guru mengajak siswa untuk belajar secara langsung dengan alam disekitarnya yang hendak ia pelajari.
Menurut Rustaman (1996), banyak keuntungan yang akan kita peroleh jika kita menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu sebagai berikut:
1. Siswa mendapat informasi berdasarkan pengalaman langsung, karena itu pengajaran akan lebih bermakna dan menarik.
2. Pelajaran menjadi lebih kongkrit.
3. Penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah dan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi siswa.
4. Sesuai dengan prinsip-prinsip dalam pendidikan, yaitu belajar itu harus dimulai dari yang:
· Kongkrit ke yang abstrak,
· Mudah/sederhana ke yang sukar/kompleks,
· Sudah diketahui ke yang belum diketahui.
5. Mengembangkan motivasi dan prinsip “belajar bagaimana belajar (learning how to learn)” berdasarkan kepada metode ilmiah.
6. Siswa dapat mengenal dan mencintai lingkungnnya, sehingga akan timbul rasa syukur, mengagumi, dan mengagumkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai penciptannya.

Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh siswa jika menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, maka guru hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam hal tersebut.

LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Menurut Gage (1984, dalam Dahar, 1991) belajar dapat didefenisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman yang diperolehnya. Sedangkan menurut Rosser (1984, dalam Dahar, 1991), belajar didefenisikan sebagai proses belajar dapat pula diartikan sebagai proses perolehan pengetahuan yang merupakan suatu proses interaktif. Orang yang belajar akan berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar (di dalam atau di luar) organisme yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme. Lingkungan tertentu mempunyai fenomena, keunikan dan batas-batas ini akan memberi rasa aman dan tentram pada siswa. Dengan bertambahnya pengetahuan tentang berbagai keadaan, tempat, serta peranannya secara keseluruhan dalam suatu lingkungan, akan membuat siswa memperoleh kecakapan dan kesanggupan baru dalam menghadapi dunia nyata (Poerbakawatja, 1982). Hal ini sesuai dengan salah satu tugas sekolah sebagai tempat pesiapan untuk terjun dalam kehidupan di masyarakat. Lingkungan memberi bahan-bahan kongkrit mengenai kehidupan sehari-hari untuk dijadikan bahan pelajaran. Contoh lingkungan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar misalnya, halaman sekolah; pekarangan bunga, di sekitar sekolah; pasar super market, pusat kota dan jalan raya; di alam terbuk; pinggir danau, pinggir sungai, kebun, lereng bukit, tempat pemancingan, tempat rekreasi dan lain-lainnya.
Bukan faktor yang mempengaruhi proses belajar diantaranya kurikulum, guru, sesama siswa, lingkungan dan media (sumber) belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang digunakan untuk membantu proses belajar. Staton (1978) mengemukakan bahwa dengan penggunaan yang tepat sumber belajar dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mempercepat seluruh proses latihan. lingkungan dapat digunakan sebagai sumber belajar. Pernyataan ini diperkuat oleh Sukarno (1981), bahwa pendidikan di luar kelas memperkaya anak akan pengalaman pertama, bukan pengalaman tangan ke dua, pengalaman yang disampaikan gurunya atau oleh buku. Pelaksanaannya dapat merupakan pendahuluan sebelum anak belajar di dalam kelas, atau merupakan kelanjutan dari proses belajar mengajar di dalam kelas. John (1976, dalam Straton, 1978) menyatakan bahwa laboratorium di luar kelas (lingkungan) adalah ruang kelas tempat anak belajar sesuatu dengan efektif tentang akar kegiatan dan proses belajar.
Relevansi penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dikemukakan oleh Driver (1994, dalam Nirwana, 1996), bahwa reaksi siswa cukup baik terhadap lingkungan belajar yang terbuka. Partisipasi siswa melalui pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar lebih aktif dibandingkan pengajaran biasa.  Pendapat ini didukung oleh Balding dkk., (1989, dalam Nirwana, 1996) yang mengemukakan bahwa cara mengajar menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar adalah dengan memanfaatkan bahan serta fenomena yang ada dilingkungan. Pendapat lain dikemukakan oleh Kentish (1994), bahwa dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar kita dapat menciptakan dan meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan. Makin tinggi kesadaran seseorang terhadap lingkungan makin terwujud dalam tingkah laku. Sedangkan Bochrer dan Linsky (1990, dalam Braus 1993), menyatakan bahwa jika siswa diberi kesempatan untuk menemukan masalah dan jawaban sendiri, maka siswa akan termotivasi berpikir kritis, bertanggung jawab, dan mengembangkan berbagai keterampilan dalam pembelajaran.
Menurut Owen (1980), sikap menghargai, rasa bangga dan memahami sumber daya alam seperti cahaya matahari, tanah, air udara, dan makhluk hidup lain merupakan sikap yang perlu ditanamkan sejak dini. Anak sekolah adalah sasaran penting dalam pendidikan lingkungan karena merekalah yang kelak akan menjadi pemimpin (pengambil keputusan) dan pengguna sumber daya alam. Dalam beberapa hal mereka dapat mempengaruhi orangtua dan masyarakat di sekitannya. Menurut Braus (1993) para sukarelawan dan pendidik yang bekerja disekolah-sekolah atau lembaga pendidikan lainnya dapat memberikan pengaruh yang kuat kepada siswa. Mulai dari peningkatan kesadaran dan pengetahuan dalam membentuk sikap dan mempermudah program pendidikan lingkungan. Disinger (1994) mengemukakan bahwa yang menjadi tantangan adalah menyiapkan materi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar dapat memecahkan masalah lingkungan yang sedang terjadi.

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar ada beberapa tahapan yang harus dilakukan guru yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Pada tahap pesiapan, terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan yang ingin dicapai dari penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar dan menentukan konsep yang ingin ditanamkan kepada siswa. Setelah itu lakukan survei ke tempat dituju. Lakukan penjelajahan ditempat tersebut dengan teliti (antisipasi jangan samapai tempat itu menjadi tidak aman bagi siswa). Selanjtnya dari hasil survei itu, buatlah Lembaran Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan tujuan dan konsep yang akan ditanamkan kepada siswa. Jika tempat yang akan dituju itusiswa tidak melakukan kegiatan eksperimen, namun hanya menggali pengetahuan dan mencatat hasil kunjungan tersebut. Buatlah intrumen yang sesuai misalnya berupa lembar pengamatan, wawancara, dll. Setelah LKS atau instrumen yang diperlukan selesai, siapkan alat dan bahan atau fasilitas-fasilitasyang diperlukan untuk studi lapangan tersebut.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini guru hendaknya membimbing siswa untuk melakukan kegiatan sesuai dengan LKS atau instrumen. Seperti di SDN Inpres 6.88 Perumnas 2 Yabansai, guru Bahasa Indonesia mengajak para siswa untuk berpuisi dan menghayati makna puisi di alam terbuka. Tujuan ini agar siwa tidah hanya berpuisi saja tetapi menghayati makna puisi yang berkaitan dengan suasana alamnya. Pada tahap ini usahakan ciptakan suasana yang mendukung agar siswa tertarik dan tertantang untuk melaksanakan kegiatan dengan sebaik-baiknya.
3. Tahap Pasca Kegiatan Lapangan
Sekembalinya siswa dari lapangan mereka harus membuat laporan tentang apa yang mereka rasakan dan bagaimana hasilnya. Sistematika laporan sebaiknya diberikan oleh guru untuk memudahkan siswa dalam menyusun laporan yang dibuat siswa hendaknya memuat data yang dapat digunakan guru untuk membimbing siswa agar memehami suatu konsep. Mintalah siswa untuk mempresentasikan hasil kegiatannya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing siswa untuk memenuhi suatu konsep sesuai dengan kegiatan yang telah dilakukan.
Di samping membuat laporan, siswa juga diminta untuk mengolah hasil kegiatan lapangan. Mungkin ada perasaan-perasaan yang membuat siswa tertarik dan tidak bosan belajar Bahasa Indonesia. Kemudian hasil laporan itu dipresentasikan kepada teman-temannya.

Baca 2711 kali

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.


Anti-spam: complete the task