HARUS DICARI KIAT KEBERHASILAN PON XI PAPUA

1
39

Sebaiknya Dibuka Ruang Evaluasi Usai PON

JUDUL di atas menarik untuk dikaji dandi kupas tuntas, baik oleh kalangan olahraga, pers dan masyarakat peduli bidang yang satu ini. Apalagi kita di Papua yang sudah tersohor namanya di dunia adu otot dan otak ini. Papua terkenal karena gudangnya atlet muda berbakat. Pemain sepak bola, pelari (sprinter) tercepat, lifter terbaik, petinju terbaik dan pedayung yang haus juara serta masih banyak lagi cabang olah raga yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua. Hingga saat ini, Papua masih disegani karena prestasi olahraganya yang terus meningkat.

Puncaknya pada PON XI/1985 di Jakarta, Papua (waktu itu masih Irian Jaya) mencatat sejarah dengan mengukir prestasi spektakuler sebagai juara pertama di luar Pulau Jawa. Papua berhasil menduduki urutan 5 (lima) di bawah DKI Jakarta (151 emas-119 perak-102 perunggu) sebagai juara umum, kedua, JawaTimur (86-91-94), ketiga, Jawa Barat (77-15-26), keempat, Jawa Tengah (33-58-68) dankelima, Papua (23-24-25) dari 18 Provinsi/Kontingen yang ikut ambil bagian dalam pesta olahraga empat tahunan itu.

Wajar DKI Jakarta  11 kali menjadi juara umum karena hampir semua atlet/pemain terbaik bermukim di ibukota. Tempat kedua diduduki Jawa Barat dengan tiga kali juara umum menyusul dua kali Jawa Timur dan satu kali juara umum di Solo sebagai tuan rumah PON PertamaTahun 1948. PON Pertama ini diikuti 13 kota di PulauJawa, sebagai ajang eksibisi dan membangun silaturrahim di masa Kontingen Papua memulai debutnya di PON sejak PON VII/1969 di Surabaya dan menduduki urutan 15 dan melorot satu tingkat pada POV VIII/1973 di posisi 16. Sejak PON IX, prestasi Papua menunjukkan kelasnya sampai dengan PON XVI/2004 Palembang.

Sejakitu Papua berada di urutan 5, 6 atau 7. Setelah itu mulai melorot prestasinya sejak dua PON terakhir. Papua hanya mampu bertahan di urutan 11 pada PON XVII/2008 di Kalimantan Timurdan di PON  XVIII/ 2012 Riau, kembali ke posisi PON VII/1969 Surabaya. Tepatnya di urutan 15.Seyogianya perlu dilakukan evaluasi sekembalinya dari PON dan bila perlu dipertanggungjawabkan  dihadapan DPR Papua sebagai bentuk tanggungjawab kepada masyarakat Papua. Ingat bahwa yang digunakan ini uang rakyat dalam jumlah yang tidak sedikit sehingga tidak ada salahnya tindakan ini dilakukan. Selain itu, evaluasi ini dimaksudkan untuk perbaikan kedepan. Yang kurang diperbaiki dan yang baik ditingkatkan .

Kegagalan di dua PON terakhir Karena kita tidak maksimal menggenjot dan memotifasi pelatih dan atlet. Mestinya kita belajar dari pengalaman PON XI/1985 yang menghantarkan Papua/Irian Jaya masuk Lima Besar. Kala itu, Wagub Sugiyono yang lebih akrab disapa Ebes sangat tidak suka kalau hanya mendengar dan menerima laporan saja dari staf atau pengelola TC/Pemusatan Latihan. Sang Ebes tidak sungkan-sungkan langsung terjuan, berbaur dengan atlet, pelatih dan kalangan pengelola atau Bapelatda. Masalah yang ditemukan dalam salah satu cabang, langsung dituntaskan saat itu juga. Itulah kehebatan seorang Sugiyono (kiniAlmarhum).“Pokonya mendali (medali maksudnya). Tidak usah berpikir yang  lain kecuali berlatih, berlatih dan berlatih”. Kehadiran Ebes menjadi  vitamin perangsang bagi atlet maupun pelatih. Motivasi ini seolah menghipnotis alam berfikir mereka bahwa hanya Eman, Emas, dan Emas.

Sejumlah hambatan lain seperti peralatan umum dan khusus yang terlambat tiba, sangat mempengaruhi mental maupun daya juang atlet. Lazimnya sepatu tanding atau perlengkapan lainnya itu sudah harus di tangan pemain/atlet paling lambat satu bulan sebelum laga. Masalah pengadaan peralatan ini mungkin saja terlambat karena proses administrasi yang panjang. Tapi mestinya hal itu tidak menjadi alasan. Karena ketentuan proses pengadaan dan pelelangan itu sudah sejak PON-PON terdahulu.  Pertanyannya, kenapa yang lalu-lalu bisa tiba barangnya tepat waktu, sekarang tidak.

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan oknum atau pihak tertentu Tetapi semata-mata untuk perbaikan kedepan.Tentunya kita tidak ingin melihat Papua terpuruk lagi dalam event berikutnya. Selain itu satu hal yang perlu dirubah adalah system pembinaan yang mengabaikan system skalam prioritas.Bahwa menghadapi event sekelas PON harus mengedepankan prinsip penghematan tapi hasilnya luar biasa. Artinya, cabang-cabang yang menjadi unggulan daerah menjadi prioritas pembinaan. Tidak serta-merta menggunakan system pukat harimau. Cabang apa saja apa bila sudah terdaftar di Pengurus Besar dan Koni pusat, boleh ikut ke PON. Harus benar-benar selektif sehingga hasilnya bisa maksimal. Sistem ini yang member hasil  Papua bisa menggusur lawan-lawan tangguh seperti Kaltim, Sumsel, Sulseldan Jambi. (bersambung)

Oleh : M. UsmanFakaubun

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*