GKI Klasis Baliem Yalimo Raih Penghargaan UEM

0
12

Dalam Pemberantasan Buta Aksara di Papua

Foto : Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Alberth Yoku, STh, ketika menyerahakan penghargaan dari UEM kepada Nathan Pahabol di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Kamis (13/10/2016) kemarin. (Loy/Binpa)
Foto : Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Alberth Yoku, STh, ketika menyerahakan penghargaan dari UEM kepada Nathan Pahabol di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Kamis (13/10/2016) kemarin. (Loy/Binpa)

JAYAPURA – GKI di Tanah Papua Klasis Baliem Yalimo berhasil meraih penghargaan dari Persekutuan Gereja Gereja di Eropa, Afrika dan Asia atau dikenal United Engelical Mission (UEM) atas keberhasilan mereka dalam memperjuangkan pemberantas buta aksara.

Penghargaan itu, diserahkan langsung oleh UEM kepada Sinode GKI di Tanah Papua, kemudian diserahkan oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt Alberth Yoku, STh kepada Koordinator Kemitraan GKI Klasis Baliem Yalimo, Nathan Pahabol didampingi Sekretaris Klasis, di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Kamis (13/10/2016) kemarin.

“Penghargaan ini merupakan kebangaan bagi kami di GKI Klasis Beliem Yalimo dan lebih khusus kepada masyarakat Papua sehingga meraih penghargaan dari UEM dalam pemberantasan buta aksa di Papua,” kata Ketua Sinode Pdt Alberth Yoku dalam keterangan persnya, Kamis (13/10/2016) kemarin.

Alberth mengemukakan, sejak tahun 1962 GKI di Tanah Papua mendapatkan perhatian gereja-gereja di Jerman, secara khusus di UEM, yang merupakan organisasi pengabaran injil, termasuk pemberantasa buta akasa pendidikan dan kesehatan.

“GKI sebagai salah satu anggota dari UEM telah melakukan kemitraan baik untuk penterjemahan alkitab dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah maupun pemberantasan buta aksara melalui gedung gereja yang digunakan untuk tempat belajar,” katanya.

Berasarkan itu, berdasarkan itu telah menghasilkan buku Nare Nare, dalam pemberantasan buta aksara di daerah pedalaman seperti di wilayah-wilayah Pegunungan Tengah khususnya di kabupaten Yalimo.

“Nah, GKI ikut serta dalam pemberantasan buta aksara yang digelar pemerintah dan ada secara mandiri gereja melakukan pembinaan tutor buta aksara. Secara Sinode, kami lakukan untuk seluruh Papua dimana sejak tahun 2007,” katanya.

Ketika mengikuti itu, lanjut Alberth Yoku, pihaknya berhasil melakukan tutoris terhadap 351 petugas gereja untuk memberantas buta aksara yang melaksanakan tugasnya, hingga berhasil 3700 warga yang melek aksara.

“Hasilnya, anak pegunungan tengah dibawah GKI menjadi anggota MRP dan kini menjadi anggota DPR Papua. Itu karena dukungan langsung oleh UEM, sehingga dalam sidang di Rwanda Afrika Selatan memberikan penghargaan kepada Sinode GKI di Tanah Papua khususnya Klasis Baliem Yalimo,” pungkasnya.

Untuk itu, ia menyampaikan terimakasih kepada Koordinator Kemitraan GKI Klasis Baliem Yalimo, Nathan Pahabol yang sudah memabntu buta aksa di Papua. “Anak-anak Papua di pedalaman bisa membacara, itu karena berkat pak Nathan Pahabol. Kami berharap ini terus dikembagkan,” pungkasnya. (Loy/don)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*