Bupati Buka Palang Kebun Inti PIR V Arso

0
9

Setelah Dua Bulan Dipalang Masyarakat Adat Setempat

Captions- Bupati Keerom Drs. Celsius Watae MH, saat berbincang-bincang dengan tokoh-tokoh adat masyarakat di Arso PIR V dalam rangka pembukaan palang Kebun Inti 1, 2, 3, 4 dan 5 PIR Kelapa Sawit di Arso, kemarin.
Captions- Bupati Keerom Drs. Celsius Watae MH, saat berbincang-bincang dengan tokoh-tokoh adat masyarakat di Arso PIR V dalam rangka pembukaan palang Kebun Inti 1, 2, 3, 4 dan 5 PIR Kelapa Sawit di Arso, kemarin.

KEEROM – Setelah aksi pemalangan kebun inti 1,2,3,4 dan 5 yang dilakukan masyarakat adat pemilik hak ulayat tanah berlangsung selama dua bulan, akhirnya palangtersebut kemarin dibuka oleh Bupati Keerom Celcius Watae.

Pembukaan palang ini menyusul kesepakatan yang dicapai antara pemilik ulayat dengan Pemkab Keerom dan ditandai pemotongan dua ekor babi dan pemberian bantuan pengganti biaya transport kepada masyarakat.

Pada pembukaan palang tersebut, dari unsur pemerintah hadir Bupati Keerom, Drs.Celsius Watae MH, Dandim 1701/JYP, Letkol inf. Mahbub J, Kepala BPKAD Trisiswanda Indra, Kadistrik Arso, Malensius Musui SH, Kepala Kampung WonorejoPIR IV, Mathias Wei, dan unsur pimpinan SKPD lainnya. Sementara dari adat diwakili oleh Yoseph Wabiager dan Herman Fatagur.

Bupati Keerom, Drs. Celcius Watae MH, pada kesempatan tersebut mengemukakan sejak pemalangan dilakukan pertama kali sekitar 2 bulan yang lalu, ia terus menyimak perkembangan yang terjadi.

Sehingga ia menilai pada pemalangan yang saat ini telah dua bulan berjalan, membuat dampak negative kepada banyak pihak, teruta mamasyarakat kecil.

” Masalah ini saya sudah berbicara dengan adat dan telah sepakat bahwa palang ini segera dibuka hari ini (kemarin, red) agar masyarakat terutama yang bergantung kepadakebun inti dan yang bekerja di pabrik bisa segera bekerja dan memperoleh penghasilanuntuk makan keluarga. Karena itulah palang ini kita usahakan dibuka,” ungkap Bupati Keerom  pada kesempatan tersebut di tenda di lokasi kebun inti kelapa sawit PIR V, kemarin.

Akan tetapi, Bupati tak menampik masalah yang dituntut oleh masyarakat adat memang belum terselesaikan. Tapi Bupati berharap agar masalah tersebut tak menyebabkan kerugian bagi masyarakat yang terus bekerja dan membutuhkan kebun inti dan pabrikkelapa sawit milik PTPTN tetap bisa berjalan.

“Masalah dan tuntutan yang ada biarlahia masih berjalan dan sudah kita sampaikan ke provinsi, namun untuk di kebun inti dan pabrik saya harap tetap beroperasi agar masyarakat kecil juga tetap bisa bekerja dan menghasilkan nafkah untuk keluarganya masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu dari perwakilan pemilik ulayat/lahan, Herman Fatagur mengemukakan, pihaknya tetap menuntut untuk penyelesaian pembayaran ganti rugi tanah mereka yangtelah digunakan oleh PTPN selama ini untuk terus diproses.

“Kami dari masyarakat adat  akan tetap tuntut itu, dan saya minta ini jadi perhatian, pembukaan palang ini bukan berarti masalah telah selesai tapi kita melihat kepentingan orang banyak, namun saya minta tetap proses masalah ganti rugi hak kami,’’pungkasnya.(rhy/aj)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*