Bahaya Sel Tidur Teroris

0
30

Kelompok radikal, yang memaksakan kepentingannya dengan cara kekerasan dan menakuti pihak lain sehingga disebut teroris, dalam keadaan terdesak akan bersembunyi dan sementara waktu tidak melakukan aksi teror. Kelompok radikal pembuat teror (teroris) yang sedang bersembunyi dan diam ini adalah sel tidur. Tingkat bahaya sel tidur teroris tidak kalah dengan kelompok teroris yang aktif melakukan aksi terbuka, seperti di Suriah. Sel tidur teroris sangat berbahaya karena bersembunyi di tengah masyarakat umum atau organisasi legal.

Kelompok teroris yang sedang bersembunyi dan disebut sel tidur ini tentu saja tidak selamanya melakukan hibernasi, tetapi menunggu waktu dan momentum untuk beraksi kembali. Dalam tidurnya, sel teroris bisa saja melakukan kegiatan seperti orang biasa, bekerja mencari nafkah, dan berperilaku normal-normal saja supaya tidak dikenali sebagai kelompok teroris.

AH, orang yang ditangkap oleh Densus-88 pada tanggal 23 Desember 2015, sebelumnya termasuk sel tidur teroris. AH sebagai kaki tangan Bahrun Naim di Suriah, diketahui selama beberapa tahun bekerja normal di sebuah perusahaan swasta produsen spare part otomotif yang cukup besar dan terkenal. Dia bekerja normal-normal saja bahkan aktif di kegiatan-kegiatan karyawan. Ketika AH ditangkap oleh Densus-88, yang selanjutnya diketahui terkait dengan jaringan Bahrun Naim termasuk jaringan pelaku Bom Thamrin dan Bom Solo, maka teman-teman kerja dan perusahaan tempat dia bekerja terkaget-kaget. AH selama kurang lebih 5 (lima) tahun berada di perusahaan dan tidur sebagai anggota kelompok radikal.

Pasca melemahnya kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang ditekan oleh operasi Satuan Tugas Tinombala, diduga kelompok radikal terutama yang berafiliasi dengan ISIS akan menyebar dan menjadi sel-sel tidur. Hal ini juga dipicu oleh terdesaknya ISIS di Suriah. ISIS melemah karena daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai seperti Fallujah mulai dapat dikuasai kembali oleh Pemerintah Irak. Basis utama ISIS di Libya yang terletak di kota Sirte sudah mulai dapat dikuasai oleh Libya. Serangan bertubi-tubi diterima ISIS di beberapa tempat. Di Suriah, ISIS mendapat serangan signifikan dari aliansi Kurdi dan Arab. Amerika memberikan tekanan cukup kuat kepada ISIS dengan melakukan serangan secara bersamaan di beberapa pertahanan ISIS. Tekanan dari banyak pihak ini membuat ISIS semakin tidak berdaya.

Akibat dari melemahnya ISIS ini tentu sangat berpengaruh terhadap kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Faktor yang mempengaruhi selain eksistensi ISIS adalah figur pemimpin, jaringan, dan paling penting adalah sumber dana dan pasokan logistik. Kelompok radikal di Indonesia yang putus pasokan dana dari Suriah mau tidak mau akan bertahan hidup sebagai orang biasa dan menjadi sel tidur atau tetap eksis dengan aksinya sambil mencari sumber dana lain. Sumber dana kelompok radikal diperoleh dengan cara mencari donatur atau melakukan fai, merampas (merampok) harta pihak lain.

Teroris dalam aksinya tentu tidak langsung besar sebagai sebuah kelompok yang mampu melawan kekuatan negara secara terbuka. Kelompok teroris terbagun dari individu, kelompok kecil, lalu membangun sel-sel di banyak tempat dan akhirnya melakukan perlawanan sesuai dengan kekuatan dan sasarannya. Jika sudah besar dan mempunyai kekuatan yang mampu menandingi kekuatan kelompok besar seperti negara tentu kelompok teroris ini tidak mau lagi disebut sel/kelompok teroris, tetapi akan menamai organisasinya setara dengan lawannya misal sebagai sebuah negara atau sebagai sebuah partai.

Sel tidur teroris sangat berbahaya, selama tidur dan menjadi orang biasa dan orang normal, sel ini diam-diam bisa merencanakan suatu aksi dengan bebas. Sel tidur bisa melakukan infiltrasi ke masyarakat umum, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, atau bahkan perusahaan besar seperti yang disebutkan di awal. Infiltrasi tidak hanya untuk bersembunyi dan mendapatkan tempat aman, sel tidur teroris tentu bisa menggalang dana, melakukan propagandam dan merekrut orang. Beda sel tidur teroris dan sel aktif teroris adalah sel tidur tidak melakukan aksi teror.

Pencegahan dan Antisipasi

Sel tidur teroris tetap akan menjadi sel tidur dan tidak melakukan aksi teror selama tidak ada logistik, senjata, sumber dana, dan momentum, termasuk sasaran. Langkah siginifikan untuk mencegah aksi teror jika mengetahui ada sel tidur teroris maka putus jalur logistik, senjata, sumber dana dan jauhkan dari momentum. Dengan langkah ini maka aksi teror bisa dicegah. Tentu saja untuk memutus jalur logistik, senjata, sumber dana dan menjauhkan dari momentum harus dilakukan oleh aparat negara secara komprehensif. Contoh jalur dana bisa dicegah oleh PPATK, pasokan senjata dan logistisk bisa dicegah oleh kepolisian dan BIN.

Untuk mengantisipasi sel tidur teroris maka masyarakat dan organisasi (misalnya lembaga, kelompok, termasuk perusahaan) harus waspada dan cermat mengetahui entitasnya. Kenali anggotanya, waspadai jika ada orang-orang baru atau orang yang telah lama pergi dan datang kembali. Perusahaan adalah salah satu tempat yang menarik bagi kelompok teroris untuk tempat bersembunyi dan tempat tidur dari aktivitas teror. Teroris yang bergabung dengan perusahaan akan memperoleh identitas sosial, apalagi jika bergabung dengan perusahaan besar. Selain itu dengan bergabung dengan perusahaan, maka selama tidur dari aksi teror, kelompok atau orang ini memperoleh “energi” untuk tatap hidup.

Masyarakat dan organisasi yang menemukan adanya orang-orang baru dan orang lama yang datang kembali perlu melakukan pengawasan sosial, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dan organisasi terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari orang yang dicurigai secara normal. Jika terdapat anomali seperti selalu rutin bertemu orang lain secara tertutup, menjaga jarak atau membangun “tembok” jika ingin diketahui profil dan aktivitasnya sebaiknya melaporkan kecurigaan ini terhadap aparat terdekat untuk dilakukan tindakan secepatnya.Kelompok-kelompok yang eksklusif juga perlu diwaspadai. Kelompok yang eksklusif tentu secara logis mempunyai sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang umum. Ini adalah salah satu indikasi anomali yang bisa disampaikan kepada aparat untuk diamati lebih detail.

Penutup

Melemahnya kelompok teror di Indonesia dan kelompok radikal international seperti ISIS akan berdampak pada metamorfosis kelompok aktif teroris menjadi sel tidur teroris. Masyarakat dan organisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam mendetaksi dan mengantisipasi sel tidur teroris. Dengan pengawasan dan ketelitian maka masuknya orang/sel tidur dari kelompok radikal dapat diketahui bahkan dicegah.

Pemerintah tidak bisa sendirian dalam mencegah dan menangani terorisme. Peran Polri, TNI, BIN, dan BNPT tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh peran sosial masyarakat dan organisasi. Sekecil apapun kewaspadaan masyarakat dan organisasi terhadap sel tidur teroris ini akan berdampak besar pada terorisme.

*Oleh : Stanislaus Riyanta, penulis adalah analis intelijen dan terorisme, alumnus Program Pascasarjana S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*