Adaptasi Kelompok Teroris

0
46

Saat ini diketahui bahwa kelompok ISIS telah kehilangan setengah wilayahnya di Irah dan 20% wilayahnya di Suriah. Jalur pasokan utama dari Turki juga sudah hilang. Secara teritorial ISIS bisa disebut terdesak dan melemah, namun kewaspadaan terhadap aksi kelompok teroris ini tidak boleh berkurang. ISIS dan kelompok teroris yang berafiliasi dengannya sangat adaptif. Kelompok ini mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.

Wilayah teritorial yang semakin berkurang secara langsung akan menurunkan eksistensi ISIS. Hal ini tentu akan mengubah strategi ISIS dalam memperkuat pengaruhnya. ISIS sangat kreatif memanfaatkan segala cara untuk menunjukkan eksistensi dan memperbesar daya tarik bagi simpatisan dan pendukungnya.

Wilayah kekuasaan ISIS di Irak dan Suriah yang ditekan oleh pasukan gabungan membuat ISIS melakukan balasan dengan cara lain yang lebih efektif. ISIS memanfaatkan teknologi internet untuk menggerakkan simpatisannya yang berada di banyak negara untuk melakukan serangan-serangan sporadis untuk tetap menjaga eksistensi dan menekan negara penentang ISIS.

Perubahan Aksi

Serangan-serangan ISIS ke Eropa termasuk serangan brutal ke Paris pada November 2015 menunjukkan ISIS tidak main-main dalam melakukan aksinya. Serangan tersebut direncanakan secara matang dengan memanfaatkan jaringan yang kuat. ISIS dalam berkomunikasi dengan jejaringnya menggunakan fasilitas internet seperti aplikasi Telegram dan Whatsapp yang terenkripsi.

Tidak hanya di Eropa, di Asia Tenggara ISIS berhasil menanamkan pengaruhnya. Propaganda yang disebarkan melalui media sosial bisa diakses oleh orang banyak. Penyebaran ini selain ditujukan untuk menunjukkan kekuatan dan pengaruh, juga untuk menjadi daya tarik sehingga sekaligus menambah simpatisan. Di Indonesia sendiri kelompok radikal kanan hampir sebagian besar menjadi “mendadak” ISIS. Tidak hanya kelompok tetapi juga individu yang sebelumnya tidak terkait jaringan manapun seperti pelaku bom medan.

Ivan Armadi Hasugian, yang bersimpati dengan ISIS, melakukan aksi teror dengan bantuan arahan teknis melalui internet. Bahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan bahwa pelaku bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Ivan Armadi Hasugian (18) tersebut, berhubungan langsung dengan Bahrun Naim, tokoh ISIS yang diduga berada di Suriah. Hal ini menunjukkan bahwa ISIS mampu melakukan adaptasi dan inovasi sehingga berhasil melakukan teror secara efektif. Pelaku teror tunggal mampu digerakkan dan dikendalikan dari jauh. Ini adalah bukti bahwa kolompok teroris berhasil beradaptasi.

Propaganda ISIS melalui media sosial terbukti berhasil mempengarui banyak orang. Beberapa waktu yang lalu lewat media sosial ISIS berhasil mempengaruhi orang untuk hijrak ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Organisasi intelijen Soufan Grup mencatat pada tahun 2015 ada 27 ribu hingga 31 ribu anggota ISIS yang datang dari 86 negara. Timur Tengah dan Afrika Utara penyumbang terbanyak anggota ISIS, masing-masing sekitar 8.000 orang. Sementara Eropa Barat kedua dengan 5.000 orang. Sekitar 2.400 datang dari Rusia, meningkat empat kali lipat dari penghitungan terakhir.

Gencarnya serangan terhadap ISIS di Suriah membuat pasukan ISIS tercerai berai dan wilayahnya semakin mengacil. Dukungan ISIS dari simpatisannya semakin berkurang. ISIS beradaptasi, simpatisannya diarahkan untuk bergerak melakukan aksi di masing-masing wilayahnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya rangkaian aksi teror di beberapa wilayah Eropa. Adaptasi ISIS ini sukses dalam menunjukkan keberadaan ISIS. Media sosial dan internet dimanfaatkan oleh ISIS dengan baik.

Kelompok teroris di Indonesia kemungkinan besar akan menggunakan kemampuan adaptasi seperti ISIS. Kelompok Mujahidin Indonesia Timur yang semakin terdesak dan hampir habis di Poso bisa saja menggunakan kemampuan adaptasi dan survivalnya dengan merubah bentuk aksi untuk menunjukkan eksistensinya. Kombatan kelompok MIT akan didesak oleh Satgas Tinombala. MIT tidak akan bisa melawan Satgas Tinombala. Meskipun demikian MIT tidak bisa dianggap akan melemah dan habis. Simpatisan dan jejaring MIT yang bukan kombatan diperkirakan tersebar di berbagai daerah, Kelompok teroris juag mempunyai jaringan dengan kelompok teroris di tempat lain. Jejaring dari kelompok ini yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan aksi di daerahnya masing-masing untuk menunjukkan eksistensinya.

Penanganan

Kelompok teroris yang terus beradaptasi harus ditangani secara inovatif. Perubahan gerakan/aksi kelompok teror harus diikuti dengan perubahan pola penanganan. Dalam konteks kelompok teroris di Indonesia, aksi-aksi penanganan kelompok teroris dengan menggunakan senjata harus diimbangi dengan penanganan aksi teroris di media sosial dan internet.

Saat ini konten sosial media dan internet yang berkaitan dengan kelompok radikal lebih mudah didapat daripada konten-konten tentang pluralisme dan perdamaian. Pemerintah terutama Kementrian Kominfo terlihat kurang gencar dalam memerangi propaganda kelompok radikal. Situs yang menyajikan konten narasi radikal lebih mempunyai daya tarik terutama menjawab kebutuhan eksistensi dan kehausan akan hal baru bagi sebagian generasi muda.

Untuk mencegah beredarnya konten narasi radikal yang menjadi pemicu terorisme maka pemerintah harus melakukan integrasi para pemangku kepentingan seperti Kementrian Kominfo, Kemenpora, Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan, MUI, Polri, BNPT, BIN dan lembaga lainnya untuk membuat langkah terpadu melawan propaganda kelompok teroris. Negara harus melakukan inovasi untuk menjawab adaptasi kelompok teroris.

Pemerintah tidak perlu ragu untuk menutup situs yang memuat konten narasi radikal. Selain menutup situs dengan konten narasi radikal, pemerintah perlu menggencarkan situs dengan konten toleransi dan perdamaian. Budaya toleransi dan perdamaian yang cenderung mulai berkurang harus segera dipupuk lagi. Jika generasi muda mempunyai sifat yang toleran dan damai maka doktrin melalui narasi radikal akan terbendung.

Kesimpulan

Kelompok teroris terus melakukan adaptasi dan merubah pola aksinya untuk tetap menunjukkan eksistensi. Pola aksi yang sebelumnya berpusat di suatu tempat sekarang menyebar dan bergerak dalam kekuatan kelompok kecil bahkan dalam perorangan. Media sosial dan internet menjadi alat bantu efektif bagi kelompok radikal untuk beradaptasi dan mengubah pola aksinya.

Hal tersebut diatas harus disikapi dengan penanganan yang inovatif. Penanganan kelompok teroris harus berkembang sesuai dengan pola aksi yang terus beradaptasi. Pemerintah jangan sampai kalah dengan kelompok teror. Ketika kelompok teror mampu beradaptasi maka pemerintah juga harus mampu berinovasi untuk mencegah terorisme berkembang.

*) Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, alumnus Program Pascasarjana S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia. Oleh : Stanislaus Riyanta

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR


*